Buku ini saya beli tepat di bulan terbit dengan versi terjemahannya yang diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2023. Saya sedikit beruntung karena membelinya saat momentum dan ikut acara Borobudur Writer & Cultural Festival yang saat itu membahas tema besar tentang lingkungan secara global. Judul buku ini sangat lugas dan padat yaitu “Sacred Nature”, ditulis oleh Karen Amstrong; seorang mantan biarawati yang taat, kemudian memutuskan untuk melepas jubah kebiaraannya dan menjadi masyarakat biasa.
Sekilas mungkin ia bisa dibilang pendatang baru dalam menulis soal lingkungan; pertama, Karen Amstrong adalah seorang pemikir yang selama ini menulis di wilayah agama-agama dunia; terutama tradisi monoteis (Abrahamik), dan seluruh dunia mengakui kepakarannya di wilayah itu. Kedua, wacana lingkungan ini terbilang baru dari wacana-wacana global yang telah ada. Namun mungkin, berangkat dari latar itu, Karen Amstrong justru melihat agama-agama memiliki tanggung jawab besar pada wacana lingkungan yang muncul dan mengemuka di abad ini.
Buku Sacred Nature secara format merupakan kumpulan esai, namun tetap sehimpun dalam tema utuh perihal lingkungan. Hal ini berbeda dengan cerita pendek yang dihimpun lebih sporadis dalam kumpulan cerpen (kumcer). Namun secara prinsipil keduanya (kumpulan esai/ cerpen) memiliki kesamaan; buku sacred nature ini bagi saya (meminjam analogi Haruki Murakami dalam menulis cerpen) layaknya berkebun di pekarangan rumah yang bisa saja ditulis (ditanam) seketika, berbeda dengan menulis buku atau novel (masih dalam ungkapan Haruki Murakami), yaitu seperti berkebun di ladang yang membutuhkan perencaan, kalkulasi, dan waktu yang panjang. Jadi, kumpulan esai ini bersifat kontemplatif ketimbang uraian-uraian panjang metodologis dan fakta-fakta empirik.
Buku kumpulan esai Sacred Nature ini bagi saya (meminjam analogi Haruki Murakami dalam menulis cerpen) layaknya berkebun di pekarangan rumah yang bisa saja ditulis (ditanam) seketika, berbeda dengan menulis buku atau novel (masih dalam ungkapan Haruki Murakami), yaitu seperti berkebun di ladang yang membutuhkan perencaan, kalkulasi, dan waktu yang panjang. Jadi, kumpulan esai ini bersifat kontemplatif ketimbang uraian-uraian panjang metodologis dan fakta-fakta empirik.
Penilaian subjektif saya pada Karen Amstrong yang dikemukakan di awal sebagai pendatang baru dalam menulis isu lingkungan, agaknya memang tidak berlebihan. Dalam buku ini Karen Amstrong menulis dengan kekayaan yang telah dimilikinya sebagai pemikir agama-agama, terlebih tradisi monoteis yang terekam dalam seluruh karya-karyanya: ia lalu mengekstraksi seluruh ajaran agama-agama itu pada awal mula penciptaan alam dan bumi yang sakral; sebelum terciptanya hujan yang menyentuh tanah untuk bahan dasar Adam (as).
Dari bagian awal hingga akhir bab, Karen Amstrong selalu memulainya dengan kalimat “Jalan ke Depan”. Hal tersebut sebagai simbol atas spirit agama yang menitikberatkan pada Hari Depan, atau dalam Islam sebagai visi (The Vision of Islam). Di bagian prolog, Karen Amstrong banyak mengungkap metafisika dunia Timur yang membawa alam suci transendental yang berkesinambungan dengan kehidupan bumi yang profan. Hal demikian, bagi pembaca masyarakat Barat yang memiliki tradisi pagan mungkin akan dinilai sebagai pandangan hidup yang monistik dan panteistik.
Namun bagi kalangan monoteis, hal itu tidak demikian, karena penulis Karen Amstrong mengelaborasi lebih jauh antara sakralitas dan yang profan dalam kisah-kisah para rasul Islam, di antaranya Ibrahim (as), kekudusan Musa (as) yang terjaga, dan ujian yang diderita Ayub (as). Semua kisah-kisah tersebut merupakan sesuatu yang lain (illah) bagi akal yang bisa diimani dan dicontoh untuk umat manusia. Pandangan monistik dan panteistik dibantah pula oleh Karen Amstrong di bab-bab bagian akhir, yang banyak mengelaborasi pemikiran filsuf dan mistikus Islam seperti Ibn Arabi terkait wahdatul wujud (Tanzih dan Tasbih) yang jelas-jelas berbeda dengan gagasan monistik dan panteistik dalam memandang kesatuan alam.
Secara keseluruhan, dalam buku ini Karen Amstrong banyak mengungkap ajaran-ajaran para guru mistik (master of reality) di dunia Timur, hingga banyak merujuk pada kisah Ayub (as) dalam Kitab Ayub, serta beberapa filsuf dan mistikus Islam abad pertengahan di Eropa seperti Ibn Arabi. Dengan latar demikian, Karen Amstrong menulis soal lingkungan ini tidak dengan menggunakan metode saintifik sebagaimana para ilmuwan dan ahli lingkungan modern. Karen Amstrong memilih menulis dengan gayanya sendiri yang menggabungkan kekuatan ekplanasi logika dengan bentangan metafisika agama-agama, dengan begitu sebagaimana dikemukakan di awal, buku sacred nature ini lebih bersifat kontemplatif ketimbang metodologis.
Di lembar awal buku, Karen Amstrong membuka dengan ungkapan puisi seorang guru mistik Asia Timur bernama Zhang Zai:
Langit adalah ayahku
Bumi adalah ibuku
Dan bahkan mahkluk kecil seperti diriku
Menemukan tempat hangat di antara keduanya.
Maka, apa-apa yang mengisi semesta
Kuanggap tubuhku
Dan apa-apa yang mengarahkan semesta
Kuanggap alamku
Semua manusia adalah saudaraku, dan
Semua yang ada (di alam) sahabat-sahabatku.
Puisi di atas mewakili ajaran-ajaran para filsuf mistik di Asia Timur yang lebih dekat pada tradisi monistik, seperti: Zen Budhis, konfusius, hingga Jalan Dao dalam ajaran Laozi. Pada kesimpulannya, ajaran-ajaran para filsuf mistik tersebut memiliki beberapa kesamaan dengan tradisi menoteis dalam memandang kesatuan dengan alam. Satu di antaranya apa yang disebut wanwu (hal-hal), Karen Amstrong mengutip sebuah ajarannya yang berbunyi: “kita harus memperlakukan seluruhyang ada di alam, sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan, sehingga kita bisa berbagi daya hidup yang sama dan terhindar dari kerusakan.” Ajaran inilah kemudian yang dianjurkan oleh Karen Amstrong untuk manusia modern hari ini dalam memperlakukan sesama manusia atau relasi manusia dengan alam.
Di antara keseluruhan bab yang dihimpun, satu yang paling menarik perhatian saya adalah bab tiga, yaitu tentang “Kekudusan Alam”. Dalam bab ini, Karen Amstrong banyak mengutip Kitab Ayub sebagai solusi alternatif akan kerusakan lingkungan abad ini. Kekudusan secara prinsip merupakan sarana fundamental untuk menghormati alam sebagai ciptaan Tuhan. Karen Amstrong menilai hilangnya penghormatan pada alam seiring dengan hilangnya penghormatan manusia pada Tuhan, yang tergerus oleh peradaban sekulerisme dalam pengalaman masyarakat Barat, peradaban modern yang dilahirkan oleh sekulerisme kemudian hanya menyisakan cara pandang materialisme dalam melihat realitas alam sebagai yang tunggal.
Di antara keseluruhan bab yang dihimpun, satu yang paling menarik perhatian saya adalah bab tiga, yaitu tentang “Kekudusan Alam”. Dalam bab ini, Karen Amstrong banyak mengutip Kitab Ayub sebagai solusi alternatif akan kerusakan lingkungan abad ini. Kekudusan secara prinsip merupakan sarana fundamental untuk menghormati alam sebagai ciptaan Tuhan. Karen Amstrong menilai hilangnya penghormatan pada alam seiring dengan hilangnya penghormatan manusia pada Tuhan, yang tergerus oleh peradaban sekulerisme dalam pengalaman masyarakat Barat, peradaban modern yang dilahirkan oleh sekulerisme kemudian hanya menyisakan cara pandang materialisme dalam melihat realitas alam sebagai yang tunggal.
Agama monoteis (Abrahamik) secara gamblang memberi keterangan sejak awal penciptaan Adam (as), bahwa bumi ini diciptakan untuk manusia, namun bukan berarti manusia adalah yang paling berhak atas segala isinya. Manusia merupakan mahkluk Tuhan di bumi yang diberi akal dan jiwa yang bertujuan untuk memakmurkan bumi. Dalam Islam kita mengenalnya sebagai Khalifah fi al-Ardh, yaitu wakil Tuhan di muka bumi yang bertugas untuk mengenal (meng-Esa-kan) dan mengejawantahkan nama-nama Tuhan (Asmaul Husna). Kaitannya dengan alam, pada dasarnya manusia memiki elemen-elemen lain sebagaimana dimiliki oleh hewan dan tumbuhan, perbedaannya manusia memiliki akal dan jiwa sebagai bekal atau potensi untuk menampung nama-nama Tuhan (Asmaul Husna).
Agama monoteis (Abrahamik) secara gamblang memberi keterangan sejak awal penciptaan Adam, bahwa bumi ini diciptakan untuk manusia, namun bukan berarti manusia adalah yang paling berhak atas segala isinya. Manusia merupakan mahkluk Tuhan di bumi yang diberi akal dan jiwa yang bertujuan untuk memakmurkan bumi. Dalam Islam kita mengenalnya sebagai Khalifah fi al-Ardh, yaitu wakil Tuhan di muka bumi yang bertugas untuk mengenal (meng-Esa-kan) dan mengejawantahkan nama-nama Tuhan (Asmaul Husna). Kaitannya dengan alam, pada dasarnya manusia memiki elemen-elemen lain sebagaimana dimiliki oleh hewan dan tumbuhan, perbedaannya manusia memiliki akal dan jiwa sebagai bekal atau potensi untuk menampung nama-nama Tuhan (Asmaul Husna).
Hal tersebut kemudian yang mendasari para teoritikus etika lingkungan (environmental ethics) di masa kini, yaitu ingin mengembalikan hal itu, bahwa alam; pohon, sungai, laut, tumbuhan, hewan dan sebagainya memiliki hak sebagaimana manusia yang hidup atas kebutuhan darinya, maka bersikap hormat pada alam akan mengembalikan manusia akan penghormatan pada dirinya sendiri; bahwa alam, manusia, dan Tuhan sama-sama memiliki dimensi sakral yang tidak bisa dipahami oleh akal, namun oleh gerak jiwa.
Sebagai penutup, penghormatan pada alam di abad sebelum modern sebenarnya sudah terjadi di hampir semua kebudayaan. Terlebih di Indonesia, penghormatan itu bahkan sudah dipertemukan antara agama (Islam) dan budaya melalui beragam ekspresi selametan atau syukuran. Artinya, di Indonesia ritual penghormatan pada alam sudah masuk pada wilayah inti dari ajaran agama untuk mengesakan Tuhan (tauhid) lewat jalan tradisi atau pembiasaan. Yang menjadi problem hari ini, tradisi itu tergerus oleh kehidupan modern dan perlahan hilang karena tidak dimengerti oleh nalar modern.
Maka untuk memulihkan manusia dan alam, alih-alih melakukan pemulihan alam yang rusak oleh eksploitasi kapital, karen Amstrong justru mengajak kita untuk lebih mengakrabi diri terlebih dahulu sebagai pangkal langkah awal memulihkan dan memahami alam itu sendiri. Dan dalam Islam, mengakrabi atau mengenal diri merupakan jalan mengenal Tuhan. Demikian dalam Islam, memahami alam tidak dilepaskan dari unsur teofaniknya sebagai jalan pula untuk mengenal Tuhan. Sebagaimana banyak disebut dalam al-Qur’an, melakukan perenungan atas seluruh penciptaan alam oleh Tuhan merupakan tingkatan ibadah paling tinggi.
Maka untuk memulihkan manusia dengan alam, alih-alih melakukan pemulihan alam yang rusak oleh eksploitasi kapital, karen Amstrong justru mengajak kita untuk terlebih dahulu mengakrabi diri (manusia) sebagai pangkal dan langkah awal untuk memulihkan dan memahami alam itu sendiri. Dengan cara demikian, memulihkan alam memiliki arti memahami diri (manusia) sebagai sama-sama ciptaan Tuhan. Pada akhirnya, memulihkan alam sama berarti mengenal atau memulihkan diri yang akan membuka peluang menuju jalan untuk mengenal Tuhan.
Robbana Maa Kholaqta Hadza Batila, Subhanaka Faqina ‘Adzabannar
Wallahu a’lam