Jihad Pendidikan Pesantren Condong: Memadukan Tradisi dan Modernitas (Milad Seperempat Abad Keterpaduan)

Sebagai seorang alumnus Pondok Pesantren Condong yang menerapkan penggabungan antara tradisi pesantren dan pendidikan modern, saya merasa keduanya memang tidak bertentangan. Pondok Pesantren Condong menerapkan sistem terpadu (keterpaduan); yaitu tradisi pesantren berupa kitab kuning, disiplin pondok modern gontor, serta pendidikan sekolah nasional. Usai menamatkannya selama enam tahun, saya kemudian merasa berbeda ketika melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi negeri (kampus umum) di Yogyakarta. Perbedaan tersebut saya rasakan ketika bertemu teman-teman kuliah yang notabenenya lulusan sekolah negeri umum, kemudian dengan beberapa teman kampus yang lulusan dari pondok modern gontor, begitu pula ketika selama kuliah saya bermukim di pondok yang mengkhususkan diri pada praktik dan pelajaran Islam klasik abad pertengahan yang dikelola oleh yayasan filantropi dunia yang berpusat di Turki. Namun dari semua perbedaan dari corak-corak tersebut, saya bisa menjalaninya dengan beriringan dan tidak ada pertentangan yang berarti.

Tulisan ini semacam refleksi untuk memperingati atau milad Pondok Pesantren Condong yang ke-25. Dengan demikian, tulisan ini akan berangkat dari penelaahan sejarah, karena sejarah merupakan cermin yang paling jernih untuk kita bisa melihat masa depan. Secara spesifik, tulisan ini merupakan usaha penelaahan dari tiga karya disertasi yang diterbitkan dengan bahasa Inggris, dan saat ini sudah diterjemahkan menjadi sebuah buku ke dalam bahasa Indonesia. Harus diakui, hingga saat ini terbilang masih sedikit para sarjana Islam di Indonesia yang meneliti dan menulis tentang pesantren. Karya yang familiar tentunya karya dari peneliti asal Belanda Martin Van Bruinessen berjudul “Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat”. Namun yang lebih khusus meneliti tentang pesantren (karya disertasi) baru ada tiga; pertama dari peneliti asal Amerika berjudul “Peaceful Jihad”. Penulisnya merupakan seorang antropolog bernama Ronald Alan Lukens-Bull yang proses penelitiannya di bawah bimbingan langsung seorang orientalis ahli Islam Jawa, yaitu Prof. Mark Woodward. Karya kedua berjudul Pesantren Tradition (diterjemahkan dengan judul “Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Islam Indonesia”) karya Zamakhsyari Dhofier. Buku ini bisa dibilang karya sarjana Islam Indonesia pertama dalam menulis pesantren hingga kemudian menjadi bahan rujukan para peneliti berikutnya. Karya ketiga adalah disertasi Abdurrahman Mas’ud berjudul “The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings”.

Usaha penelaahan dari karya disertasi yang meneliti tentang pesantren tersebut, saya melihat ketiganya memiliki kesamaan dalam hal aspek pendidikan sebagai subjek utama penelitian. Ciri pendidikan ini kemudian menjadi jalan atau ciri umum yang dipilih oleh pesantren hingga membentuk identitasnya sejak awal. Aspek pendidikan ini pula yang kemudian menjadi pembeda dengan pola pendidikan sekolah pada umumnya, yaitu pendidikan bukan sebatas sarana pengajaran, namun sebagai sarana pembentukan moral dan kepribadian. Pendidikan sekolah nasional di Indonesia merupakan pendidikan yang dibentuk dan hasil peninggalan Belanda.  Sejak awal pendidikan tersebut bertujuan untuk mencetak pegawai (amtenar) dan pangreh praja (pejabat birokrasi), maka dasarnya ia bersifat sekuler, karena dalam sistem pengajarannya memisahkan pengetahuan umum dengan pengetahuan agama. Maka sebaliknya, pesantren hari ini (termasuk dalam hal ini Pesantren Condong) tidak ingin terjebak dalam pemisahan (sekularitas) tersebut, karena dalam warisan tradisi Islam (terutama sejak abad pertengahan) ulama-ulama Islam berikut sebagai seorang ilmuwan, begitu pula para pedagang Islam di masa persebaran Islam di Nusantara berikut seorang faqih.

M.C Ricklefs dalam karya bukunya “Sejarah Indonesia Modern dari 1200 – 2008”, berpendapat bahwa cikal bakal dan semangat modern justru bermula dari Islam ketika ia mulai masuk dan memberikan pengaruhnya di kepulauan Nusantara. Karena sejak masuk (dan mencapai masa keemasannya di abad ke-15 di Malaka), Islam di Nusatara sudah menjadi peradaban kosmopolit. Sebelum kemudian semangat dan ciri modern itu tergantikan pengertiannya oleh modernitas dalam pengertian sekuler (globalisasi) yang dibawa oleh bangsa Eropa melalui kemenangan perang dan penjajahan hingga hari ini. Hal tersebut dikemukakan pula oleh Antony Reid dalam bukunya berjudul “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah di Bawah Angin, Jilid 1-II“, Islam pada masa itu berada di pusaran kota-kota bandar. Dan hampir di setiap kepulauan terdapat kesultanan-kesultanan Islam yang penunjang sarana pendidikannya adalah pesantren. Begitu pula dengan raja di keraton-keraton Nusantara, semuanya hasil didikan di pesantren.

Baru kemudian memasuki paruh pertama abad ke-17, muncul kongsi dagang asing (VOC) dan pemerintah kolonial yang memukul mundur kesultanan Islam di pusaran-pusaran bandar itu. Kekalahan perang tersebut berimplikasi langsung pada eksistensi pesantren yang kemudian lebih banyak bergerak dan merangsek ke pedalaman. Gerak ke pedalaman lantas menjadi saksi bisu dan latar keberadaan mayoritas pesantren hari ini. Dengan latar demikian, sangat wajar bila di abad-abad selanjutnya (bahkan hingga hari ini) pesantren dianggap tertinggal dan jauh dari peradaban atau kemajuan dunia modern. Pertama, karena kekalahan perang berikut kebijakan kolonial (penjajah) yang represif terhadap Islam. Kedua, karena pesantren tidak terlibat langsung (menjaga jarak) dengan perubahan dan dinamika politik temporal.

Pendidikan pesantren di Indonesia karena sejak awal merupakan tempat transmisi ilmu agama, maka ia lebih mirip sebagaimana biara-biara di Eropa, mandala-mandala Budha, atau asrhram-asrham Hindu, semuanya berakar dan berorientasi pada pembentukan praktik etika dan wawasan moral agama. Secara otomatis dari rentang kemunculannya hingga sekarang, pesantren berada di jalur pendidikan moral sebagai medan dakwah untuk mencetak manusia paripurna (insan kamil) dan turut serta dalam membangun peradaban dunia. Jika kita melihat pesantren dalam rentang sejarahnya hingga kini, kita akan melihat bahwa pesantren di Indonesia memiliki kompleksitas dan keunikan tersendiri; secara corak lokalitas ia merupakan keberlanjutan dari asrama Hindu dan mandala Budha di periode sebelumnya, namun secara agama ia sudah bertransformasi dan beralih sepenuhnya pada Islam. Namun dengan kompleksitas dan keunikan itu, pesantren justru bisa continue dan sustainable hingga hari ini.

Nurcholish Madjid dalam kumpulan esai-esainya berjudul “Bilik-bilik Pesantren”, berpendapat bahwa Indonesia mengalami persimpangan sejarah dengan berkuasanya pemerintah kolonial. Ia berhipotesa seandainya Indonesia tidak mengalami persimpangan sejarah dan mengalami periode penjajahan, sangat mungkin pesantren hari ini berada di pusat-pusat kota serta layaknya kampus-kampus bergengsi di Eropa. Pasalnya, kampus-kampus seperti Oxford, Harvard, dan sebagainya pada mulanya merupakan sebuah pendidikan berbasis agama (biara) sebagaimana pesantren. Namun sejarah berkata lain, dan pesantren harus menerima kenyataan lain dengan tumbuh dalam medan-medan baru di pedalaman.

Seiring dengan itu, di penghujung masa kekuasaannya di tanah Hindia Belanda, pemerintah kolonial memberlakukan politik etis dengan dibukanya akses pendidikan sekolah bagi semua masyarakat bumiputera. Di rentang pemberlakuan politik etis itu, pesantren yang sudah eksis di rentang masa sebelumnya terus mengalami peminggiran. Hal tersebut di samping karena alasan teologis agama, juga menyangkut nilai ideologis yang berbeda dan bersebrangan dengan kepentingan pemerintah kolonial. Karena dalam rangka menjemput dunia modern yang global, masyarakat bumiputera harus bersekolah dengan pendidikan gaya eropa yang sekuler, sebagaimana diberlakukan dalam kebijakan pendidikan politik etis. Dengan demikian, pesantren secara otomatis menjadi dan memiliki tantangan yang lebih ekstra (jihad akbar) dalam memposisikan dirinya untuk bisa bertahan serta relevan seiring dengan perkembangan dan perubahan dunia yang terjadi. Sampai di tahap ini, kita bisa membayangkan bahwa tantangan yang dihadapi pesantren bukanlah perkara mudah, namun di situlah apa yang dimaksud dengan jihad pendidikan (peacefull jihad) pesantren itu diuji.

Memasuki paruh kedua abad ke-20, pesantren menghadapi kegoncangan dan pilihan-pilihan yang sulit, yakni tatanan dunia modern dalam arus globalisasi. Pada masa-masa itu, tradisi dan pengetahuan dalam pola pendidikan agama yang selama itu hidup dan terjaga di pesantren melalui pengalaman-pengalaman langsung (living sunnah) mengalami kegoncangan. Karena dalam arus globalisasi, pengalaman dan pengetahuan yang bersifat langsung tersebut mengharuskan pada kebutuhan akan pembentukan identitas yang terkonstruksi sebagai prasyarat masuk pada pergaulan bangsa-bangsa dunia. Hal ini kemudian menandai sebuah zaman baru yang dihadapi pesantren dan disebut sebagai zaman modern. Di zaman modern, pesantren dihadapkan pada persoalan zaman yang dilematis, yaitu derasnya arus ilmu pengetahuan dan teknologi dari Eropa (Barat) yang bersifat sekuler. Dilematis karena di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut (kendati pun sekuler) merupakan capaian peradaban manusia abad ini dan turut membentuk realitas dunia, di saat bersamaan bila penggunaan dari capaian-capaian ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak diiringi dengan pertimbangan dan koridor-koridor normatif, yang terjadi justru akan merusak pesantren itu sendiri. Sehingga, jalan tengahnya adalah pesantren bisa menerima hal itu semua jika sudah dirasa membutuhkan, dan disesuaikan dengan norma-norma yang ada. Dan jalan untuk mengetengahi itu semua, pesantren tetap konsisten tetap berada di jalan pendidikan.

Memadukan Pelajaran Umum dan Pengajaran Agama

Tebu Ireng dipilih oleh beberapa peneliti sebagai pesantren pertama yang memasukan unsur pendidikan sekolah ke dalam pegajaran pesantren. Tebu Ireng menjadi semacam contoh pesantren yang dianggap cukup berhasil dalam memadukan kedua sistem pendidikan yang berbeda: sistem sekolah bersifat sekuler, dan pesantren bersifat religius. Dalam masalah ini, seorang antropolog paling berpengaruh Clifford Geertz dalam karyanya yang berjudul “Santri, Priyayi, Abangan” menjelaskan dan menganjurkan bahwa sistem sekolah yang dianggap sekuler karena bentukan pemerintah kolonial, bagaimana pun pesantren (terlebih Kyai) harus menimbang diri untuk bisa menerima dan bergabung dengan pola pendidikan baru dalam struktur dunia modern (negara bangsa). Hal demikian ungkap Geertz; bukan lagi soal sifatnya yang sekuler, namun sebagai sebuah pilihan dengan implikasi-implikasi yang sebenarnya bisa diminimalisir dari sifatnya yang sekuler itu. Bila tidak demikian, pesantren akan kehilangan andil dan pengaruhnya yang lebih besar dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang sudah bergabung dalam negara bangsa (Pancasila) modern. Implikasi lebih besarnya tentu Islam di Indonesia (dalam hal ini komunitas pesantren), tidak akan mampu bertransformasi dan menghadapi tantangan zaman modern yang semakin kompleks sebagaimana mestinya.

Setelah munculnya pesantren yang menggabungkan dengan pelajaran sekolah, meskipun di fase awal-awal cukup terbatas, namun pesantren dengan corak seperti ini menjadi model baru yang mewarnai dinamika perubahan pesantren kiwari. Hal tersebut termasuk Pondok Pesantren Condong yang menambahkan disiplin dan kurikulum pondok modern Gontor. Bahkan dalam dekade-dekade ini, muncul kecenderungan baru orang tua kelas menengah perkotaan lebih memilih menyekolahkan anaknya ke pesantren yang memadukan dengan kurikulum sekolah ketimbang menyekolahkan ke sekolah negeri pada umumnya. Hal ini berdasar karena sekolah negeri umum sangat terbatas dalam memberikan pelajaran dan pendidikan agama, dan hanya pesantrenlah yang mampu memberikan pengajaran agama tersebut dalam memenuhi pengetahuan agama serta pembentukan moral anak-anak mereka. Selain itu, pasca era reformasi (terutama andil dari Gusdur), lulusan-lulusan pesantren kini sudah banyak yang bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri, sebagaimana lulusan-lulusan sekolah negeri pada umumnya. Hal tersebut semakin memperkuat posisi pesantren yang memilih menggabungkan dengan sistem sekolah (seperti halnya Pesantren Condong), untuk ia semakin relevan dan kontekstual untuk menjembatani beban sejarah pendidikan di Indonesia, sekaligus bisa menjadi pilihan yang baik bagi pendidikan generasi mendatang.

Perguruan Tinggi Pesantren

Mungkin ini perkembangan terbaru yang dialami oleh pesantren modern hari ini, termasuk Pondok Pesantren Condong, yakni berdirinya perguruan tinggi. Tujuan dan penekanan dibangunnya perguruan tinggi yaitu tetap kembali pada peran dan nilai-nilai lama pesantren, yakni perihal etika. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh KH. Hasyim Muzadi bahwa “perguruan tinggi mencetak orang-orang cerdas, tetapi belum tentu mereka bermoral”. Perguruan tinggi merupakan tingkat akhir dalam mematangkan keilmuan dan keahlian. Karena pesantren modern telah bergerak dan merangkul perkembangan dunia modern, maka perguruan tinggi yang merupakan tahap akhir dari pendidikan sekuler harus tetap ditransmisikan dengan nilai-nilai awal Islam pesantren.

Dalam milad ke-25 ini pula, pesantren condong sekaligus akan meresmikan perguruan tinggi dengan nama Universitas Riyadlul ‘Ulum (UNIRU). Dalam visi yang tercantum, tertulis bahwa tujuan didirikannya perguruan tinggi pesantren adalah untuk mencetak generasi ulama berikut cendikiawan yang mampu mengintegrasikan ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu modern. Sepintas saja kita bisa menilai, bahwa pesantren modern tidak ingin terjebak pada pemisah-misahan (sekuler) ilmu, sehingga ilmu-ilmu modern yang awalnya dianggap sekuler bisa diintegrasikan dengan ilmu-ilmu keislaman.

Di masa-masa awal penerimaan masyarakat Islam pada nilai-nilai modern berikut di dalamnya adalah ilmu pengetahuan, muncul reaksi sebagian sarjana Islam untuk membersihkan ilmu pengetahuan tersebut dari coraknya yang sekuler secara langsung, yakni islamisasi ilmu pengetahuan. Pesantren yang memiliki basis nilai-nilai lokal karena menyangkut keberadaannya dengan lokalitas masyarakat setempat, tentu akan menjadi berbeda dengan sebagian sarjana Islam di masa awal tersebut, karena tidak semua ilmu harus berasas pada pakem-pakem islamisasi; karena dalam lokalitas, yang diperlukan pesantren hanya merangkul nilai-nilai lokal tersebut sebagaimana adanya. Bila kita sedikit berkaca pada sejarah, hal itu pula yang dilakukan oleh wali sembilan (walisanga) dalam melakukan penyebaran Islam di kepulauan Nusantara.

Sebagai penutup, kita tentu mengerti pesantren yang selama ini istiqamah dalam menjaga tradisi dana nilai-nilai moral, memiliki kekhawatiran bila dengan berdirinya perguruan tinggi sebagai tahapan tertinggi dari jenjang sekolah (keterpelajaran), tidak beriring dengan kematangan moral. Namun bila tingkat keterpelajaran mampu beriring dengan kualitas kematangan moral, maka pesantren dan para santri akan lebih siap mengartikulasikan apa yang dimaksud jihad damai (peaceful jihad) untuk mengarungi era global ini dan turut serta mengantarkan generasi dan zaman yang akan datang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

kencang77Kencang77smm panel murahKencang77 Heylinkagen slotslot77slot 77 gacor slot gacorkencang77slot gacorprediksi togel akuratprediksi togel kencang77prediksi togel terbarupengeluaran togelKabar Aktual 71Daily News Update 2006100berita update 001berita update 002berita update 003berita update 004berita update 005berita update 006berita update 007berita update 008berita update 009berita update 010berita update 011berita update 012berita update 013berita update 014berita update 015berita update 016berita update 017berita update 018berita update 019berita update 020Cerita Rakyat 2026010001Cerita Rakyat 2026010002Cerita Rakyat 2026010003Cerita Rakyat 2026010004Cerita Rakyat 2026010005Cerita Rakyat 2026010006Cerita Rakyat 2026010007Cerita Rakyat 2026010008Cerita Rakyat 2026010009Cerita Rakyat 2026010010Cerita Rakyat 2026010011Cerita Rakyat 2026010012Cerita Rakyat 2026010013Cerita Rakyat 2026010014Cerita Rakyat 2026010015Cerita Rakyat 2026010016Cerita Rakyat 2026010017Cerita Rakyat 2026010018Cerita Rakyat 2026010019Cerita Rakyat 2026010020https://www.zeverix.comBerita 899011Berita 899012Berita 899013Berita 899014Berita 899015Berita 899016Berita 899017Berita 899018Berita 899019Berita 899020Daily News 899021Daily News 899022Daily News 899023Daily News 899024Daily News 899025Daily News 899026Daily News 899027Daily News 899028Daily News 899029Daily News 899030Daily News 899031Daily News 899032Daily News 899033Daily News 899034Daily News 899035Daily News 899036Daily News 899037Daily News 899038Daily News 899039Daily News 899040Daily News 899041Daily News 899042Daily News 899043Daily News 899044Daily News 899045Daily News 899046Daily News 899047Daily News 899048Daily News 899049Daily News 899050Daily News 899051Daily News 899052Daily News 899053Daily News 899054Daily News 899055Daily News 899056Daily News 899057Daily News 899058Daily News 899059Daily News 899060Daily News 899061Daily News 899062Daily News 899063Daily News 899064Daily News 899065Daily News 899066Daily News 899067Daily News 899068Daily News 899069Daily News 899070berita Update 2006121berita Update 2006122berita Update 2006123berita Update 2006124berita Update 2006125berita Update 2006126berita Update 2006127berita Update 2006128berita Update 2006129berita Update 2006130berita Update 2006131berita Update 2006132berita Update 2006133berita Update 2006134berita Update 2006135berita Update 2006136berita Update 2006137berita Update 2006138berita Update 2006139berita Update 2006140berita Update 2006141berita Update 2006142berita Update 2006143berita Update 2006144berita Update 2006145berita Update 2006146berita Update 2006147berita Update 2006148berita Update 2006149berita Update 2006150berita Update 2006151berita Update 2006152berita Update 2006153berita Update 2006154berita Update 2006155berita Update 2006156berita Update 2006157berita Update 2006158berita Update 2006159berita Update 2006160Daily News 2026001Daily News 2026002Daily News 2026003Daily News 2026004Daily News 2026005Daily News 2026006Daily News 2026007Daily News 2026008Daily News 2026009Daily News 2026010Daily News 2026011Daily News 2026012Daily News 2026013Daily News 2026014Daily News 2026015Daily News 2026016Daily News 2026017Daily News 2026018Daily News 2026019Daily News 2026020Daily News 2006161Daily News 2006162Daily News 2006163Daily News 2006164Daily News 2006165Daily News 2006166Daily News 2006167Daily News 2006168Daily News 2006169Daily News 2006170Daily News 2006171Daily News 2006172Daily News 2006173Daily News 2006174Daily News 2006175Daily News 2006176Daily News 2006177Daily News 2006178Daily News 2006179Daily News 2006180Daily News 2006181Daily News 2006182Daily News 2006183Daily News 2006184Daily News 2006185Daily News 2006186Daily News 2006187Daily News 2006188Daily News 2006189Daily News 2006190Daily News 2006191Daily News 2006192Daily News 2006193Daily News 2006194Daily News 2006195Daily News 2006196Daily News 2006197Daily News 2006198Daily News 2006199Daily News 2006200Daily News 899071Daily News 899072Daily News 899073Daily News 899074Daily News 899075Daily News 899076Daily News 899077Daily News 899078Daily News 899079Daily News 899080Daily News 899081Daily News 899082Daily News 899083Daily News 899084Daily News 899085Daily News 899086Daily News 899087Daily News 899088Daily News 899089Daily News 899090Daily News 899091Daily News 899092Daily News 899093Daily News 899094Daily News 899095Daily News 899096Daily News 899097Daily News 899098Daily News 899099Daily News 899100Daily News 899101Daily News 899102Daily News 899103Daily News 899104Daily News 899105Daily News 899106Daily News 899107Daily News 899108Daily News 899109Daily News 899110Daily News 899111Daily News 899112Daily News 899113Daily News 899114Daily News 899115Daily News 899116Daily News 899117Daily News 899118Daily News 899119Daily News 899120Daily News 899121Daily News 899122Daily News 899123Daily News 899124Daily News 899125Daily News 899126Daily News 899127Daily News 899128Daily News 899129Daily News 899130Daily News 899131Daily News 899132Daily News 899133Daily News 899134Daily News 899135Daily News 899136Daily News 899137Daily News 899138Daily News 899139Daily News 899140Riset Ilmiah 89900001Riset Ilmiah 89900002Riset Ilmiah 89900003Riset Ilmiah 89900004Riset Ilmiah 89900005Riset Ilmiah 89900006Riset Ilmiah 89900007Riset Ilmiah 89900008Riset Ilmiah 89900009Riset Ilmiah 89900010Riset Ilmiah 89900011Riset Ilmiah 89900012Riset Ilmiah 89900013Riset Ilmiah 89900014Riset Ilmiah 89900015Riset Ilmiah 89900016Riset Ilmiah 89900017Riset Ilmiah 89900018Riset Ilmiah 89900019Riset Ilmiah 89900020Riset Ilmiah 89900021Riset Ilmiah 89900022Riset Ilmiah 89900023Riset Ilmiah 89900024Riset Ilmiah 89900025Riset Ilmiah 89900026Riset Ilmiah 89900027Riset Ilmiah 89900028Riset Ilmiah 89900029Riset Ilmiah 89900030Riset ilmiah 22025041Riset ilmiah 22025042Riset ilmiah 22025043Riset ilmiah 22025044Riset ilmiah 22025045Riset ilmiah 22025046Riset ilmiah 22025047Riset ilmiah 22025048Riset ilmiah 22025049Riset ilmiah 22025050Riset ilmiah 22025051Riset ilmiah 22025052Riset ilmiah 22025053Riset ilmiah 22025054Riset ilmiah 22025055Riset ilmiah 22025056Riset ilmiah 22025057Riset ilmiah 22025058Riset ilmiah 22025059Riset ilmiah 22025060Daily News12222025061Daily News12222025062Daily News12222025063Daily News12222025064Daily News12222025065Daily News12222025066Daily News12222025067Daily News12222025068Daily News12222025069Daily News12222025070Daily News12222025071Daily News12222025072Daily News12222025073Daily News12222025074Daily News12222025075Daily News12222025076Daily News12222025077Daily News12222025078Daily News12222025079Daily News12222025080Daily News12222025081Daily News12222025082Daily News12222025083Daily News12222025084Daily News12222025085Daily News12222025086Daily News12222025087Daily News12222025088Daily News12222025089Daily News12222025090Daily News12222025091Daily News12222025092Daily News12222025093Daily News12222025094Daily News12222025095Daily News12222025096Daily News12222025097Daily News12222025098Daily News12222025099Daily News12222025100Daily News 30060001Daily News 30060002Daily News 30060003Daily News 30060004Daily News 30060005Daily News 30060006Daily News 30060007Daily News 30060008Daily News 30060009Daily News 30060010Daily News 30060011Daily News 30060012Daily News 30060013Daily News 30060014Daily News 30060015Daily News 30060016Daily News 30060017Daily News 30060018Daily News 30060019Daily News 30060020Daily News 30060021Daily News 30060022Daily News 30060023Daily News 30060024Daily News 30060025Daily News 30060026Daily News 30060027Daily News 30060028Daily News 30060029Daily News 30060030News 202680001News 202680002News 202680003News 202680004News 202680005News 202680006News 202680007News 202680008News 202680009News 202680010News 202680011News 202680012News 202680013News 202680014News 202680015News 202680016News 202680017News 202680018News 202680019News 202680020News 202680021News 202680022News 202680023News 202680024News 202680025News 202680026News 202680027News 202680028News 202680029News 202680030Daily Update 2026171Daily Update 2026172Daily Update 2026173Daily Update 2026174Daily Update 2026175Daily Update 2026176Daily Update 2026177Daily Update 2026178Daily Update 2026179Daily Update 2026180Daily Update 2026181Daily Update 2026182Daily Update 2026183Daily Update 2026184Daily Update 2026185Daily Update 2026186Daily Update 2026187Daily Update 2026188Daily Update 2026189Daily Update 2026190Daily Update 2026191Daily Update 2026192Daily Update 2026193Daily Update 2026194Daily Update 2026195Daily Update 2026196Daily Update 2026197Daily Update 2026198Daily Update 2026199Daily Update 2026200Berita Indonesia 202600021Berita Indonesia 202600022Berita Indonesia 202600023Berita Indonesia 202600024Berita Indonesia 202600025Berita Indonesia 202600026Berita Indonesia 202600027Berita Indonesia 202600028Berita Indonesia 202600029Berita Indonesia 202600030Berita Indonesia 202600031Berita Indonesia 202600032Berita Indonesia 202600033Berita Indonesia 202600034Berita Indonesia 202600035Berita Indonesia 202600036Berita Indonesia 202600037Berita Indonesia 202600038Berita Indonesia 202600039Berita Indonesia 202600040daily news 202600021daily news 202600022daily news 202600023daily news 202600024daily news 202600025daily news 202600026daily news 202600027daily news 202600028daily news 202600029daily news 202600030daily news 202600031daily news 202600032daily news 202600033daily news 202600034daily news 202600035daily news 202600036daily news 202600037daily news 202600038daily news 202600039daily news 202600040Discover ID 202600021Discover ID 202600022Discover ID 202600023Discover ID 202600024Discover ID 202600025Discover ID 202600026Discover ID 202600027Discover ID 202600028Discover ID 202600029Discover ID 202600030Discover ID 202600031Discover ID 202600032Discover ID 202600033Discover ID 202600034Discover ID 202600035Discover ID 202600036Discover ID 202600037Discover ID 202600038Discover ID 202600039Discover ID 202600040News Jakarta 899141News Jakarta 899142News Jakarta 899143News Jakarta 899144News Jakarta 899145News Jakarta 899146News Jakarta 899147News Jakarta 899148News Jakarta 899149News Jakarta 899150News Jakarta 899151News Jakarta 899152News Jakarta 899153News Jakarta 899154News Jakarta 899155News Jakarta 899156News Jakarta 899157News Jakarta 899158News Jakarta 899159News Jakarta 899160Berita Perpustakaan 2320001Berita Perpustakaan 2320002Berita Perpustakaan 2320003Berita Perpustakaan 2320004Berita Perpustakaan 2320005Berita Perpustakaan 2320006Berita Perpustakaan 2320007Berita Perpustakaan 2320008Berita Perpustakaan 2320009Berita Perpustakaan 2320010Berita Perpustakaan 2320011Berita Perpustakaan 2320012Berita Perpustakaan 2320013Berita Perpustakaan 2320014Berita Perpustakaan 2320015Berita Perpustakaan 2320016Berita Perpustakaan 2320017Berita Perpustakaan 2320018Berita Perpustakaan 2320019Berita Perpustakaan 2320020Berita Perpustakaan 2320021Berita Perpustakaan 2320022Berita Perpustakaan 2320023Berita Perpustakaan 2320024Berita Perpustakaan 2320025Berita Perpustakaan 2320026Berita Perpustakaan 2320027Berita Perpustakaan 2320028Berita Perpustakaan 2320029Berita Perpustakaan 2320030berita alifa indonesia 60001berita alifa indonesia 60002berita alifa indonesia 60003berita alifa indonesia 60004berita alifa indonesia 60005berita alifa indonesia 60006berita alifa indonesia 60007berita alifa indonesia 60008berita alifa indonesia 60009berita alifa indonesia 60010berita alifa indonesia 60011berita alifa indonesia 60012berita alifa indonesia 60013berita alifa indonesia 60014berita alifa indonesia 60015berita alifa indonesia 60016berita alifa indonesia 60017berita alifa indonesia 60018berita alifa indonesia 60019berita alifa indonesia 60020berita alifa indonesia 60021berita alifa indonesia 60022berita alifa indonesia 60023berita alifa indonesia 60024berita alifa indonesia 60025berita alifa indonesia 60026berita alifa indonesia 60027berita alifa indonesia 60028berita alifa indonesia 60029berita alifa indonesia 60030