Mengenang Buya Syafi’i Maarif: Sebuah Kenangan dan Pembacaan Ulang

Share on:

Facebook
X
WhatsApp


~ Tulisan ini pernah dimuat di langgar.co pada bulan Juni 2021. Telah dilakukan penyuntingan ulang untuk kepentingan media yang bersangkutan.


Saya pertama mengenalnya di rubrik koran Republika, catatan-catatan opininya selalu hadir setiap pekan dan terpampang di mading koran Pesantren Condong. Seperti santri pada umumnya, bacaan itu menjadi seperti oase yang melintas di waktu istirahat sore, setelah seharian disibukan dengan aktivitas belajar mata pelajaran umum dan kitab kuning. Sebelum akhirnya magrib datang sebagai petanda untuk memulai kegiatan kembali, mengaji sorogan dan pengulangan pelajaran sekolah hingga pukul sepuluh malam. Karena tidak begitu aktif mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan pondok, membaca koran terutama kolom opini Buya Syafii Maarif dengan rutin saya lakukan sejak mulai masuk bangku SMA.

Kebiasaan membaca kolom opini di koran Republika seperti itu terus berlangsung hingga saya melanjutkan sekolah di Yogyakarta. Pondok Sulaimaniyah tempat saya tinnggal selama masa kuliah, kebetulan berlangganan pula koran republika dan saya terbiasa membacanya saat pagi selesai mengaji atau sore menjelang magrib. Saya berkuliah di universitas Negeri Yogyakarta, kampus tempat dulu Buya Syafii Maarif pernah mengajar. Ia sempat mengampu mata kuliah filsafat sejarah, dan bahasa Inggris. Meski saya belum sempat merasakan diampu olehnya secara langsung, karena begitu saya masuk UNY, Buya sudah pensiun beberapa tahun sebelumnya. Di akhir semester satu, saya mulai mengenalnya lewat pembacaan autobiografi yang ia tulis berjudul “Memoar Seorang Anak Kampung

Dari catatan autobiografi itu saya bisa menziarahi alam pemikirannya dari dekat; mulai akar benih masa kanak dan remajanya di tanah Minang, keberangkatan ke Yogyakarta, pergulatan-aktivisme di pusaran Muhammadiyah, dan pertemuannya dengan Fazlur Rahman saat studi doktoral di Chicago, Amerika Serikat. Ketika melakukan masa studi di Amerika Serikat, Buya dengan seksama menceritakan pengaruh kuat seorang Fazlur Rahman dalam membentuk kematangan iklim intelektualnya. Seperti pendahulunya, Buya Syafii Maarif turut mewarisi studi yang digeluti oleh Nurcholis Madjid (Caknur) dalam studi pemikiran Islam, tepatnya Islam dan politik yang bermuara pada pencarian identitas keindonesiaan.

Perkenalan pembacaan saya berlanjut pada studi akademik yang ia tulis berjudul “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (Sebuah Refleksi Sejarah)”. Tepat di awal memasuki semester dua, saya pertama membaca karya ini dari buku seorang teman yang saya pinjam, kebetulan ia menghadiri launching buku yang dibedah oleh Buya Syafii langsung di kampus UNY. Entah karena alasan dan latar belakang apa, saya merasa begitu antusias membacanya, bahkan teman yang meminjamkan buku itu sempat sedikit terheran, karena saya membacanya terhitung cepat.

Di sela-sela itu semua, saya kemudian bertemu secara langsung dengan Buya Syafii Maarif di kampus UIN Sunan Kalijaga. Saat itu, penerbit Mizan menerbitkan karya monumental Fazlur Rahman yang berjudul “Islam; Sejarah Pemikiran dan Peradaban”. Buya Syafii Maarif waktu itu dimintai langsung oleh penerbit Mizan untuk membedah buku tersebut. Dari sana pula saya saya mengenal pemikir Islam lain asal Pakistan bernama Mohammad Iqbal yang karya bukunya dijual berdampingan dengan Fazlur Rahman. Setelah saya baca karya buku keduanya, Rahman dan Iqbal turut menjembati arus bersar modernitas dalam Islam di dunia Barat dan global.

Sebagai seorang santri yang konservatif dan belum lama tinggal di Yogyakarta, saya cukup terkejut ketika melihat Buya Syafii Maarif meminta dibawakan Al-Qur’an untuk membaca kutipan ayat dari buku yang sedang dibedah, setelah acara selesai Buya Syafii Maarif membawa Al-Quran dengan cara ditenteng sebagaimana nenteng ketika kita membawa koran harian. Terkejut karena yang ada dalam pandangan dunia saya saat itu, saya menganggap Buya sebagaimana preseden saya melihat Kiai di Pesantren yang memperlakukan atau membawa Al-Qur’an dengan tangan di dada. Di tahun-tahun setelahnya, saya baru mengerti bahwa hal seperti itu dalam tradisi di kalangan Muhammadiyah merupakan hal yang biasa-biasa saja.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan Maret tahun 2017, karya Buya Syafii Maarif kembali muncul. Kali ini hasil dari karya disertasi yang dibentuk menjadi sebuah buku utuh berjudul “Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara (Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante)”. Karya ini menjadi pungkasan studi akademik dalam penelaahan masyarakat Islam di Indonesia. Selain mengurai Indonesia dalam spektrum kebinekaan yang terputus oleh rantai kolonial. Dalam konteks kenegaraan, karya ini menjadi pusaran telaah identitas politik umat Islam, ditengah bergejolaknya ideologi Islam politik yang sedang berkecamuk (bahkan porak-poranda) di negara-negara Islam Timur Tengah pasca reformasi di Indonesia.

Perjalanan dan pembacaan atas itu semua, tanpa saya sadari turut memengaruhi tema kajian yang kemudian menjadi karya tugas akhir skripsi saya di program studi ilmu sejarah. Saya menulis Sosialisme Indonesia yang ditelaah dari buah pergulatan pemikiran Sukarno, yaitu Marhaenisme: Sosialisme Religius, periode tahun yang diambil mulai dari rentang tahun 1933 sampai 1945. Tahun 1933 diambil bermula pada pidato persidangan Sukarno di Bandung yang berjudul yaitu Indonesia Menggugat. Dan tahun 1945 sebagai muara bertemunya dasar-dasar kebinekaan hidup berkebudayaan Indonesia, yang kemudian termaktub dalam lima bulir Pancasila.

Marhaenisme (sosialisme religius) merupakan satu bentuk penelusuran Sukarno pada sistem sosial, ekonomi, dan budaya yang menyeluruh. Dan penamaan marhaen pada seorang petani di Bandung adalah upaya peneguhan subjek diri sukarno pada diri yang lain secara utuh. Dan disitulah awal mula terciptanya tatanan, yaitu bertemunya diri pribadi dalam diri masyarakat. Untuk mengurai dan menghubungkan itu, diperlukan kejernihan melihat aliran jejak langkah masa lalu, untuk kemudian dialirkan kejernihannya ke masa kini (Baca, Tradisi). Dan itulah yang dimaksud dengan aliran jernih sungai yang melahirkan peradaban-peradaban baru.

Satu hal yang menjadi bongkahan peninggalan peradaban modern (Baca, modernisme) dengan humanisme-universalnya, ialah sifatnya yang sekuler. Berbeda dengan akar karakteristik masyarakat Indonesia, sebagaimana penelusuran Sukarno dalam marhaenisme, yang berpangkal dan bermuara pada ketuhanan, ialah sosialisme religius, yaitu bertemunya kehidupan sosial yang imanen dengan religiusitas yang transenden. Jika religiusitas ketuhanannya bersifat sosialisme, maka ia tak akan lagi menyalahkan Tuhan dalam jalan religiusitas lain. Karena ia sudah tidak membedakan antara yang imanen dengan yang transenden. Dan corak dasar sosialime religius adalah, ia tidak kemudian meninggalkan kebinekaan yang sifatnya lokal sebagai word-view tempat bermulanya setiap subjek diri, dan disitulah akar dan pengenalan awal akan kepercayaan pada Tuhan tercipta.

Kemudian di tahun 1945, corak-corak kehidupan lokal itu menemukan posisinya dalam konteks kenegaraan (Baca, negara bangsa), setelah melalui perdebatan panjang dalam sidang konstituante yang dipimpin oleh Sukarno. Dari sana, maka lahirlah nilai dasar hidup (tatanan) yang termaktub dalam lima butir Pancasila. Pun dengan termaktubnya lima butir Pancasila, perjalanan Pancasila diuji oleh arus politik zaman dalam setiap peralihan kekuasaan.

Hilangnya penghayatan dan kehikmatan dalam kehidupan berbangsa merupakan implikasi dari kehidupan yang sekuler, yakni memisahkan yang imanen dengan yang transenden, sehingga religiusitas transendental itu tidak termanifetasi dalam imanenitas kehidupan sehari-hari. Kita bisa belajar kembali pada masyarakat adat dan aliran kepercayaan yang merayakan Pancasila dalam kegiatan hidup sehari-sehari, dengan segala ragam kebinekaan, ia tidak memisahkan dan membedakan dari kebinekaan yang ada dalam diri mereka. Karena pokok dasar dari bineka, adalah tunggal ika, yaitu ketunggalan akan tujuan hidup dan Tuhan yang satu.

Dalam tajuk kencana di Ib Times.id yang dimuat di hari ulang tahunnya 2 tahun sebelum ia wafat, tertulis “Buya Syafii Maarif sebagai Mata-Air Keteladanan Bangsa”. Barangkali, keresahan yang dialirkan terus-menerus oleh kejernihan pikiran lewat kerja akademiknya, ia ingin mengalirkan sungai peradaban baru itu. Dan saya, ingin meneladani perbuatannya dengan menjadi anak sungai yang terhubung dengan aliran sungai dirinya.


Tabik

[custom_views]

Share on :

Facebook
X
WhatsApp
kencang77Kencang77smm panel murahKencang77 Heylinkagen slotslot77slot 77 gacor slot gacorkencang77slot gacorprediksi togel akuratprediksi togel kencang77prediksi togel terbarupengeluaran togelKabar Aktual 71Berita Alifa Indonesia 101Berita Alifa Indonesia 102Berita Alifa Indonesia 103Berita Alifa Indonesia 104Berita Alifa Indonesia 105Berita Alifa Indonesia 106Berita Alifa Indonesia 107Berita Alifa Indonesia 108Berita Alifa Indonesia 109Berita Alifa Indonesia 110Berita Alifa Indonesia 111Berita Alifa Indonesia 112Berita Alifa Indonesia 113Berita Alifa Indonesia 114Berita Alifa Indonesia 115Berita Alifa Indonesia 116Berita Alifa Indonesia 117Berita Alifa Indonesia 118Berita Alifa Indonesia 119Berita Alifa Indonesia 120Berita Alifa Indonesia 121Berita Alifa Indonesia 122Berita Alifa Indonesia 123Berita Alifa Indonesia 124Berita Alifa Indonesia 125Berita Alifa Indonesia 126Berita Alifa Indonesia 127Berita Alifa Indonesia 128Berita Alifa Indonesia 129Berita Alifa Indonesia 130Berita Alifa Indonesia 131Berita Alifa Indonesia 132Berita Alifa Indonesia 133Berita Alifa Indonesia 134Berita Alifa Indonesia 135Berita Alifa Indonesia 136Berita Alifa Indonesia 137Berita Alifa Indonesia 138Berita Alifa Indonesia 139Berita Alifa Indonesia 140Daily News Update 2006061Daily News Update 2006062Daily News Update 2006063Daily News Update 2006064Daily News Update 2006065Daily News Update 2006066Daily News Update 2006067Daily News Update 2006068Daily News Update 2006069Daily News Update 2006070Daily News Update 2006071Daily News Update 2006072Daily News Update 2006073Daily News Update 2006074Daily News Update 2006075Daily News Update 2006076Daily News Update 2006077Daily News Update 2006078Daily News Update 2006079Daily News Update 2006080Daily News Update 2006081Daily News Update 2006082Daily News Update 2006083Daily News Update 2006084Daily News Update 2006085Daily News Update 2006086Daily News Update 2006087Daily News Update 2006088Daily News Update 2006089Daily News Update 2006090Daily News Update 2006091Daily News Update 2006092Daily News Update 2006093Daily News Update 2006094Daily News Update 2006095Daily News Update 2006096Daily News Update 2006097Daily News Update 2006098Daily News Update 2006099Daily News Update 2006100berita update 001berita update 002berita update 003berita update 004berita update 005berita update 006berita update 007berita update 008berita update 009berita update 010berita update 011berita update 012berita update 013berita update 014berita update 015berita update 016berita update 017berita update 018berita update 019berita update 020Cerita Rakyat 2026010001Cerita Rakyat 2026010002Cerita Rakyat 2026010003Cerita Rakyat 2026010004Cerita Rakyat 2026010005Cerita Rakyat 2026010006Cerita Rakyat 2026010007Cerita Rakyat 2026010008Cerita Rakyat 2026010009Cerita Rakyat 2026010010Cerita Rakyat 2026010011Cerita Rakyat 2026010012Cerita Rakyat 2026010013Cerita Rakyat 2026010014Cerita Rakyat 2026010015Cerita Rakyat 2026010016Cerita Rakyat 2026010017Cerita Rakyat 2026010018Cerita Rakyat 2026010019Cerita Rakyat 2026010020News Conten 23141News Conten 23142News Conten 23143News Conten 23144News Conten 23145News Conten 23146News Conten 23147News Conten 23148News Conten 23149News Conten 23150News Conten 23151News Conten 23152News Conten 23153News Conten 23154News Conten 23155News Conten 23156News Conten 23157News Conten 23158News Conten 23159News Conten 23160News Conten 23161News Conten 23162News Conten 23163News Conten 23164News Conten 23165News Conten 23166News Conten 23167News Conten 23168News Conten 23169News Conten 23170News Conten 23171News Conten 23172News Conten 23173News Conten 23174News Conten 23175News Conten 23176News Conten 23177News Conten 23178News Conten 23179News Conten 23180News Conten 23181News Conten 23182News Conten 23183News Conten 23184News Conten 23185News Conten 23186News Conten 23187News Conten 23188News Conten 23189News Conten 23190News Conten 23191News Conten 23192News Conten 23193News Conten 23194News Conten 23195News Conten 23196News Conten 23197News Conten 23198News Conten 23199News Conten 23200https://www.zeverix.comBerita 899011Berita 899012Berita 899013Berita 899014Berita 899015Berita 899016Berita 899017Berita 899018Berita 899019Berita 899020Daily News 899021Daily News 899022Daily News 899023Daily News 899024Daily News 899025Daily News 899026Daily News 899027Daily News 899028Daily News 899029Daily News 899030Daily News 899031Daily News 899032Daily News 899033Daily News 899034Daily News 899035Daily News 899036Daily News 899037Daily News 899038Daily News 899039Daily News 899040Daily News 899041Daily News 899042Daily News 899043Daily News 899044Daily News 899045Daily News 899046Daily News 899047Daily News 899048Daily News 899049Daily News 899050Daily News 899051Daily News 899052Daily News 899053Daily News 899054Daily News 899055Daily News 899056Daily News 899057Daily News 899058Daily News 899059Daily News 899060Daily News 899061Daily News 899062Daily News 899063Daily News 899064Daily News 899065Daily News 899066Daily News 899067Daily News 899068Daily News 899069Daily News 899070Berita Harian update8001Berita Harian update8002Berita Harian update8003Berita Harian update8004Berita Harian update8005Berita Harian update8006Berita Harian update8007Berita Harian update8008Berita Harian update8009Berita Harian update8010Berita Harian update8011Berita Harian update8012Berita Harian update8013Berita Harian update8014Berita Harian update8015Berita Harian update8016Berita Harian update8017Berita Harian update8018Berita Harian update8019Berita Harian update8020Berita Harian update8021Berita Harian update8022Berita Harian update8023Berita Harian update8024Berita Harian update8025Berita Harian update8026Berita Harian update8027Berita Harian update8028Berita Harian update8029Berita Harian update8030Berita Harian update8031Berita Harian update8032Berita Harian update8033Berita Harian update8034Berita Harian update8035Berita Harian update8036Berita Harian update8037Berita Harian update8038Berita Harian update8039Berita Harian update8040Berita Harian update8041Berita Harian update8042Berita Harian update8043Berita Harian update8044Berita Harian update8045Berita Harian update8046Berita Harian update8047Berita Harian update8048Berita Harian update8049Berita Harian update8050Berita Update 2026111Berita Update 2026112Berita Update 2026113Berita Update 2026114Berita Update 2026115Berita Update 2026116Berita Update 2026117Berita Update 2026118Berita Update 2026119Berita Update 2026120Berita Update 2026121Berita Update 2026122Berita Update 2026123Berita Update 2026124Berita Update 2026125Berita Update 2026126Berita Update 2026127Berita Update 2026128Berita Update 2026129Berita Update 2026130Berita Update 2026131Berita Update 2026132Berita Update 2026133Berita Update 2026134Berita Update 2026135Berita Update 2026136Berita Update 2026137Berita Update 2026138Berita Update 2026139Berita Update 2026140Berita Update 2026141Berita Update 2026142Berita Update 2026143Berita Update 2026144Berita Update 2026145Berita Update 2026146Berita Update 2026147Berita Update 2026148Berita Update 2026149Berita Update 2026150berita Update 2006121berita Update 2006122berita Update 2006123berita Update 2006124berita Update 2006125berita Update 2006126berita Update 2006127berita Update 2006128berita Update 2006129berita Update 2006130berita Update 2006131berita Update 2006132berita Update 2006133berita Update 2006134berita Update 2006135berita Update 2006136berita Update 2006137berita Update 2006138berita Update 2006139berita Update 2006140berita Update 2006141berita Update 2006142berita Update 2006143berita Update 2006144berita Update 2006145berita Update 2006146berita Update 2006147berita Update 2006148berita Update 2006149berita Update 2006150berita Update 2006151berita Update 2006152berita Update 2006153berita Update 2006154berita Update 2006155berita Update 2006156berita Update 2006157berita Update 2006158berita Update 2006159berita Update 2006160Daily News 2026001Daily News 2026002Daily News 2026003Daily News 2026004Daily News 2026005Daily News 2026006Daily News 2026007Daily News 2026008Daily News 2026009Daily News 2026010Daily News 2026011Daily News 2026012Daily News 2026013Daily News 2026014Daily News 2026015Daily News 2026016Daily News 2026017Daily News 2026018Daily News 2026019Daily News 2026020TOTO 5000SLOT DANA 5000Daily News 2006161Daily News 2006162Daily News 2006163Daily News 2006164Daily News 2006165Daily News 2006166Daily News 2006167Daily News 2006168Daily News 2006169Daily News 2006170Daily News 2006171Daily News 2006172Daily News 2006173Daily News 2006174Daily News 2006175Daily News 2006176Daily News 2006177Daily News 2006178Daily News 2006179Daily News 2006180Daily News 2006181Daily News 2006182Daily News 2006183Daily News 2006184Daily News 2006185Daily News 2006186Daily News 2006187Daily News 2006188Daily News 2006189Daily News 2006190Daily News 2006191Daily News 2006192Daily News 2006193Daily News 2006194Daily News 2006195Daily News 2006196Daily News 2006197Daily News 2006198Daily News 2006199Daily News 2006200Daily News 899071Daily News 899072Daily News 899073Daily News 899074Daily News 899075Daily News 899076Daily News 899077Daily News 899078Daily News 899079Daily News 899080Daily News 899081Daily News 899082Daily News 899083Daily News 899084Daily News 899085Daily News 899086Daily News 899087Daily News 899088Daily News 899089Daily News 899090Daily News 899091Daily News 899092Daily News 899093Daily News 899094Daily News 899095Daily News 899096Daily News 899097Daily News 899098Daily News 899099Daily News 899100Daily News 899101Daily News 899102Daily News 899103Daily News 899104Daily News 899105Daily News 899106Daily News 899107Daily News 899108Daily News 899109Daily News 899110