Delegasi Universitas Riyadlul Ulum Hadiri Sarasehan Guru Besar dan Doktor Alumni Gontor, Perkuat Spirit “Ana Yahanu Faqat” Menuju Kampus Santripreneur Berdaya Saing Global

Share on:

Facebook
X
WhatsApp

Tasikmalaya, 11 Juli 2026 – Universitas Riyadlul Ulum (UNIRU) turut ambil bagian dalam Sarasehan Guru Besar dan Doktor Alumni Gontor bertajuk “Sistem dan Nilai Gontor sebagai Fondasi Pengembangan UNIDA Gontor Menuju World Class University” yang diselenggarakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, pukul 09.30–12.30 WIB di Hall Lantai IV Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Pada kegiatan tersebut, Rektor Universitas Riyadlul Ulum, Dr. Mahmud Farid, M.Pd., diwakili oleh Dr. Moh. Stahrul Zaky, M.Pd., anggota Senat Universitas, bersama Dr. Ashary Ramdhani, M.Pd., Wakil Rektor I Bidang Pendidikan dan Riset. Kehadiran delegasi UNIRU menjadi bagian dari komitmen universitas dalam memperluas jejaring akademik sekaligus menyerap pemikiran strategis mengenai pengembangan perguruan tinggi berbasis nilai pesantren menuju universitas berkelas dunia.

Sarasehan ini mempertemukan guru besar, doktor, akademisi, dan alumni Gontor dari berbagai perguruan tinggi untuk mendiskusikan arah pengembangan pendidikan tinggi Islam yang tetap berpijak pada sistem nilai Gontor, namun mampu menjawab tantangan global melalui penguatan riset, publikasi ilmiah, internasionalisasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu pesan yang paling kuat dalam sarasehan disampaikan oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus Presiden UNIDA Gontor, Al-Ustadz K.H. Hasan Abdullah Sahal. Beliau menegaskan bahwa kekuatan sebuah lembaga pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kurikulum, gedung yang megah, ataupun dokumen kelembagaan, melainkan oleh nilai-nilai yang hidup dalam diri para pendidiknya.

Menurut beliau, sistem pendidikan Gontor mampu bertahan dan berkembang karena dijalankan melalui keteladanan, keikhlasan, amanah, serta pengabdian yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Banyak nilai yang diwariskan tidak selalu tertulis dalam buku pedoman, tetapi hidup dalam budaya dan praktik pendidikan yang terus diteladankan dari generasi ke generasi.

Beliau juga mengingatkan bahwa seluruh aktivitas pendidikan pada hakikatnya merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Oleh karena itu, setiap amanah akademik, mulai dari mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, hingga mengelola institusi, harus dilandasi dengan niat ibadah dan semangat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan universitas tidak cukup hanya berorientasi pada indikator administratif maupun capaian peringkat internasional. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus membangun budaya akademik yang melahirkan karakter, integritas, dan semangat pengabdian.

Sesi sarasehan berikutnya menghadirkan Prof. Saiful Amien dari Universitas Negeri Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang yang memaparkan hasil penelitian fenomenologis mengenai konsep “Ana Yahanu Faqat”, sebuah karakter yang tumbuh dalam sistem pendidikan Gontor dan menjadi salah satu faktor keberhasilan banyak alumninya.

Dalam penelitiannya, Prof. Saiful Amien menjelaskan bahwa “Ana Yahanu Faqat” bukan sekadar ungkapan keberanian atau optimisme, tetapi merupakan karakter yang dibangun melalui keberanian menghadapi tantangan, kepercayaan diri, kesiapan belajar, ketangguhan (grit), dan keyakinan bahwa seseorang mampu berkembang apabila terus berusaha.

Salah satu refleksi menarik dari penelitian tersebut adalah temuan mengenai perbedaan pola berpikir sebagian peserta didik. Dalam banyak kasus, individu yang memiliki kemampuan akademik sangat baik justru cenderung terlalu banyak melakukan perhitungan terhadap keterbatasan dirinya. Mereka telah mampu mengukur risiko secara rinci sehingga terkadang enggan mencoba peluang-peluang baru karena merasa belum cukup mampu atau belum memenuhi seluruh persyaratan.

Sebaliknya, tidak sedikit individu yang pada awalnya berada pada tingkat kemampuan akademik biasa bahkan di bawah rata-rata justru menunjukkan keberanian untuk mencoba. Dengan bekal keyakinan, kemauan belajar, dan kegigihan, mereka terus memperbaiki diri melalui proses yang berulang hingga akhirnya mampu mencapai keberhasilan yang melampaui ekspektasi awal.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sering kali tidak hanya ditentukan oleh kemampuan awal, tetapi juga oleh keberanian untuk memulai, konsistensi dalam belajar, serta kesediaan untuk bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.

Namun demikian, keberanian yang dimaksud bukanlah keberanian yang lahir dari sikap gegabah. Semangat “Ana Yahanu Faqat” yang benar adalah keberanian yang disertai ikhtiar, pembelajaran, evaluasi, dan perhitungan yang matang. Keberanian untuk mencoba harus berjalan seiring dengan kesiapan memperbaiki diri secara terus-menerus.

Sebaliknya, keberanian tanpa ilmu, tanpa persiapan, dan tanpa kesadaran terhadap risiko bukanlah karakter yang diharapkan. Sikap tersebut justru dapat membawa seseorang pada keputusan yang serampangan dan jauh dari semangat pendidikan yang diajarkan di Gontor.

Bagi Universitas Riyadlul Ulum, nilai-nilai yang disampaikan dalam sarasehan ini menjadi penguatan terhadap arah pengembangan universitas sebagai kampus Santripreneur yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan, keberanian berinovasi, serta integritas moral.

Di tengah tuntutan peningkatan kualitas penelitian, publikasi internasional, dan internasionalisasi perguruan tinggi, seluruh sivitas akademika UNIRU diharapkan memiliki keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Dosen didorong untuk mulai menulis artikel ilmiah bereputasi internasional, membangun kolaborasi riset, mengikuti hibah penelitian, serta memperluas jejaring akademik global. Mahasiswa pun didorong aktif mengikuti kompetisi, pertukaran pelajar, konferensi ilmiah, maupun kegiatan internasional lainnya sebagai bagian dari proses pembentukan kapasitas diri.

Nilai “Ana Yahanu Faqat” memberikan pelajaran bahwa perhitungan dan analisis tetap penting dalam setiap langkah. Akan tetapi, perhitungan tidak boleh berubah menjadi alasan untuk membatasi potensi diri sebelum benar-benar mencoba. Keberanian yang disertai ilmu, perencanaan, dan evaluasi berkelanjutan akan melahirkan pertumbuhan dan keberhasilan yang lebih besar.

Semangat inilah yang selaras dengan pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal mengenai pentingnya membangun budaya pengabdian dan keteladanan. Ketika keberanian untuk mencoba dipadukan dengan keikhlasan, amanah, dan kerja keras, maka perguruan tinggi tidak hanya akan menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga insan yang berkarakter, tangguh, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui keikutsertaan dalam Sarasehan Guru Besar dan Doktor Alumni Gontor ini, Universitas Riyadlul Ulum memperoleh banyak inspirasi untuk terus memperkuat budaya akademik yang berlandaskan nilai-nilai pesantren, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun jejaring kolaborasi yang lebih luas. Dengan fondasi karakter yang kokoh dan semangat “Ana Yahanu Faqat”, UNIRU optimistis dapat terus melangkah menjadi perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan identitasnya sebagai kampus Santripreneur yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

[custom_views]

Share on :

Facebook
X
WhatsApp