Syekh Abdul Muhyi dan Persebaran Islam di Jawa Barat

Share on:

Facebook
X
WhatsApp


Pekan kedua September bulan-bulan lalu bertepatan dengan bulan maulud, saya mengundang seorang penulis buku biografi ke sebuah acara podcast yang saya kelola di media Pesantren Condong Tasikmalaya. Kebetulan buku ini belum lama terbit, yakni bulan Juni 2025. Saya mendapati buku tersebut dari seorang teman salah satu komunitas yang mengadakan sebuah program kajian rabu sore bernama Serambi Suluk. Buku itu berjudul “Sang Wali Pamijahan: Rekonstruksi Sejarah, Ajaran, dan Jejak-jejak Dakwah Syaikh Abdul Muhyi di Tatar Pasundan”. Buku ini terbilang langka secara tema kajian, karena sepenulusuran saya, baru kali ini saya mendapati sebuah karya biografi tokoh Islam dari abad-abad yang silam ditulis sebagaimana layaknya buku biografi modern, kendati pun buku ini masih bersifat informatif dan secara metodologi akademik masih bisa dikembangkan, namun hal itu tidak mengurangi pentingnya buku yang telah ditulis ini.

Sebelumnya di bulan Ramadhan tahun 2024, saya bersama media pondok Cipasung sempat mengadakan kajian kultum melalui daring dengan mengundang Prof. Oman Faturahman untuk membahas Syekh Abdul Muhyi. Namun karena saat itu terbatasnya akses dan sumber-sumber yang saya dapatkan tentang Syekh Abdul Muhyi, maka pembahasan di acara kultum tersebut lebih pada ajaran-ajaran dan peninggalan Syekh Abdul Muhyi yang memang karya tesis dan disertasi doktoral Prof. Oman Faturahman membahas perihal itu. Sebenarnya ada satu karya doktoral di bidang filologi yang sama dan lebih spesifik dan spasial membahas Syekh Abdul Muyi, yakni karya Prof. Tomy Kristomy di The Australia National University (ANU) berjudul “Sign of The Wali: Narratives at The Sacred Site in Pamijahan, West Java”, namun karena karya itu masih berbahasa Inggris sehingga baru terakses di kalangan civitas akademik.

Buku ini ditulis oleh seorang sarjana muda Islam bernama Yandi Irshad Badruzzaman, dalam keterangannya, buku ini lahir karena perguliran dengan karya biografi sebelumnya yang sudah dalam rencana dan sudah di tahap akhir penulisan. Bagi saya buku ini tidak kalah etnografiknya dengan karya yang lebih akademik lain seperti Prof. Tomy Kristomy, pasalnya Yandi Irshad (penulis buku) melakukan kerja-kerja sebagaimana yang dikerjakan oleh para antropolog dan filolog; yakni berkutat langsung dari ritus ziarah dan sumber-sumber lokal seperti babad pamijahan. Bedanya, kerja antropolog dan filolog bisa sangat luwes; berkutat sekaligus berjarak, dan secara metodologi seorang antropolog tentu lebih memiliki keketatan tertentu, sehingga kedalaman kajian dan analisisnya lebih interpretatif.

Sementara penulis buku Yandi Irshad, agaknya masih di tahap awal dalam melakukan itu, namun demikian, sumber-sumber yang dirujuk sudah cukup otoritatif dalam memenuhi otentisitas primernya. Dengan demikian, buku ini menjadi bersifat informatif dan bisa dijadikan sumber informasi awal untuk penulisan dan penelitian-penelitian selanjutnya.

Buku ini terdiri dari sembilan bab; terbilang sangat cukup dalam ukuran sebuah penulisan biografi. Dua bab pertama membicarakan teori masuknya Islam ke Nusantara beserta para penyebarnya di periode awal, kemudian periode Wali Sembilan (walisanga) yang sangat gemilang dalam perkembangan Islam (pengislaman) masyarakat Nusantara di abad ke-15. Dua bab ini menjadi pengantar sekaligus landskap yang menjadi isi buku secara keseluruhan, yakni Islam di Nusantara. Dalam bab ini juga sedikit dibahas perihal teori masuknya Islam ke Nusantara yang turut menjadi perdebatan para sejarawan modern. Ada yang menyebut di abad ke-11 dengan ditemukannya nisan Fatimah binti Maimun sebagai bukti arkeologis. Ada pula yang menyebut abad ke-12 sebagaimana dikemukakan oleh M.C Ricklefs dalam karya bukunya “A History Modern Indonesia Since C. 1200”. Selain itu, para sejarawan politik menyebut Islam baru bergerak secara masif di abad ke-15, ditandai dengan munculnya Kesultanan Demak sekaligus mengakhiri periode Hindu Majapahit.

Bab tiga dan empat, pembahasan masih pada lanskap sejarah, namun di bab ini lebih terperinci pada konteks wilayah dan latar kerajaan Mataram Islam (Yoyakarta saat ini) tempat Syekh Abdul Muhyi lahir dan dibesarkan hingga masa remaja, dari kerajaan Mataram Islam ini pula ayah Syekh Abdul Muhyi berasal, sebagai seorang penghulu agama. Pembahasan selanjutnya bergeser ke wilayah kerajaan Sumedang Larang yang saat itu menjadi pusat kebudayaan dan Islam di Priangan. Keterangan Prof. Herlina Lubis dalam bukunya “Kehidupan Kaum Menak: Priangan 1800 – 1942)”, sekitar empat generasi di Priangan mengalami periode kekuasaan (lewat bupati-bupati) di bawah pengaruh langsung Mataram Islam.

Dari Sumedang Larang ini pula ibunda Syekh Abdul Muhyi berasal, maka secara darah (nasab) Syekh Abdul Muhyi memiliki darah dari golongan bangsawan dua kerajaan sekaligus, yakni Mataram Islam dan Sumedang Larang. Dengan latar Sumedang larang ini pula, penulis menautkan lahirnya Sukapura (Tasikmalaya saat ini) bercorak kebudayaan dan Islam sesuai dengan ciri Sumedang Larang (Priangan), karena Pamijahan (tempat makam Syekh Abdul Muhyi dan Gua safarwadi) merupakan wilayah yang masuk ke Sukapura.

Barulah di bab keempat, kita mulai memasuki pembahasan Syekh Abdul Muhyi secara kronologis. Bab ini memulainya sebagaimana penulisan biografi yang lebih modern, yaitu alur yang kronologis; kelahiran, riwayat pendidikan, keberangkatan ke Aceh (nyantren), melanjutkan keilmuan Islam ke Baghdad dan pergi berhaji ke Mekah, hingga kembali pulang ke Jawa hingga wafat. Dituliskan dalam bab ini bahwa Syekh Abdul Muhyi tidak lama berada di Mataram tempat kelahirannya, di masa remaja ia sudah menimba ilmu ke Ampel Denta yang saat ini berada di Surabaya dan Giri Kedaton Gresik. Seusai dari keduanya, ia kemudian menyeberang ke Aceh yang merupakan pusat keilmuan Islam di Nusantara saat itu, dan dikenal dengan sebutan Serambi Mekah. Dari sini, mulai terlihat jejak sanad (transmisi) keilmuan Syekh Abdul Muhyi sampai ia mencapai kematangan ilmunya di Aceh hingga Bagdhdad di bawah bimbingan guru Syekh Kuala, atau lebih dikenal Syekh Abdurrauf As-singkili. Dari Syekh Abdurrauf ini pula kelak ia membawa dan mengembangkan tarekat shatariyah (sebagai unsur penting dalam penyebaran Islam) ke pulau Jawa.


Bab lima dan enam, kita melihat satu periode yang tidak kalah penting dalam hidup Syekh Abdul Muhyi, yakni mencari gua sebagaimana titah dari sang guru. Pencarian ini pula yang menjadikan Syekh Abdul Muhyi sebagai seorang sufi pengelena; sebuah ciri umum para sufi cendekia dan penyebar Islam klasik, sebagaimana pendahulu dari guru-gurunya seperti Ibn Arabi. Periode ini sekaligus menjadi periode yang melelahkan, karena sebelum menemukan gua safarwadi di Pamijahan, Syekh Abdul Muhyi mengalami persinggahan (station) dengan kurun waktu (tahun) yang berbeda-beda di beberapa tempat wilayah di Jawa Barat. Hingga pada akhirnya ia menemukan gua sebagaimana ciri khusus yang dititahkan oleh sang guru, yakni gua safarwadi yang berlokasi di daerah pesisir utara Tasikmalaya dan kelak bernama Pamijahan. Di Pamijahan inilah, Syekh Abdul Muhyi kemudian menetap, menyebarkan dakwah Islam hingga akhir hidupnya.

Pamijahan dalam telaah semantik atas Babad Pamijahan, Tomy Kristomy dalam disertasinya di bab 4; The Babad Pamijahan: Sunda, Java, and The Identity of The Pamijahanese” menjelaskan bahwa Pamijahan merupakan sebuah zawiyah yang kemudian membentuk identitas Islam yang bersintesis dengan kesundaan, setelah periode trasisinya dari Hindu Padjajaran. Di periode sebelumnya (sebelum Islam), zawiyah itu bernama Kabuyutan (Kabuyutan Galunggung), setelah mengalami peralihan, Islam kemudian menjadi identitas pengganti sekaligus perekat dengan budaya lokal kesundaan, sehingga yang tercipta kemudian (sebelum datangnya bangsa Eropa) tidak ada pengandaian lain menjadi orang Sunda di luar Islam, sebab hampir sepenuhnya sudah beralih dan bertransformasi pada Islam. Dengan demikian, Pamijahan kemudian menjadi salah satu pusat otoritas religius (The Religios Authority) baru dalam persebaran Islam di wilayah Priangan, Jawa Barat.

Bab tujuh merupakan satu chapter yang memotret periode akhir kehidupan Syekh Abdul Muhyi secara terperinci. Terdapat dua peristiwa penting yang dipotret dalam buku ini, sebelum Sang Syekh meninggal dunia, yaitu datangnya utusan dari mataram dan pemerintah kolonial Belanda, keduanya memiliki urusan yang berbeda. Pertama ia mendapat panggilan kembali dari Mataram Islam tempat kelahirannya. Panggilan itu perihal urusan keagamaan, dan secara resmi dengan surat kerajaan terlampir serta utusan yang datang bernama Ki Ngabehi Naya Kerti bertitimangsa pada jumat 16 Jumadil akhir tahun, B dari Sultan Adipati Ing Ngalaga. Sementara utusan dari pemerintah kolonial Belanda ialah urusan pajak dan peran Syekh Abdul Muhyi yang dianggap bisa menjadi ancaman pada stabilitas ekonomi politik kolonial yang telah mapan.

Islam pasca terjadinya perang Diponegoro dianggap sebagai ancaman paling serius oleh pemerintah kolonial, maka para pemimpin Islam (sebagaimana Pangeran Diponegoro) mendapat pengawasan secara langsung dari pemerintah kolonial karena sifatnya yang memberontak. Terlebih Islam yang memiliki pengaruh tarekat (sebagaimana Syekh Abdul Muhyi) dengan tarekat shatariyahnya dapat mengancam pemberontakan sebagaimana terjadi di Banten yang dilakukan oleh para petani yang juga (meskipun tidak secara langsung) terafiliasi pemimpin Islam di bawah pengaruh Tarekat. (Lihat Sartono Kartodhirjo, Pembenrontakan Petani Banten 1888, Depok, Komunitas Bambu, 2015).

Sebelum meninggal dunia, Syekh Abdul Muhyi sempat terjatuh sakit, dan pada hari senin 8 Jumadil Awal, tahun 1151 H Sang Wali Pamijahan wafat. Beliau dimakamkan di bawah lereng bukit dengan sungai besar di bawahnya, makamnya hingga kini tidak pernah sepi dari para peziarah yang datang dari seluruh penjuru negeri. Konon, karena alasan tersebut (datangnya ribuan para peziarah) yang menjadikan daerah tersebut dinamakan Pamijahan, yaitu layaknya ikan yang hendak bertelur “mijah”, saking banyaknya peziarah diibaratkan seperti banyaknya telur yang hendak mijah yang berjumlah ribuan.

Terakhir bab delapan dan sembilan semacam pendokumentasian dari peninggalan Syekh Abdul Muhyi, termasuk di dalamnya istri, anak-anak, serta kerabat kemenakannya. Dari silsilah dan pendokumentasian ini pula babad pamijahan lahir dan ditulis. Manuskrip babad tersebut keberadaannya masih terjaga sampai sekarang, termasuk di dalamnya tertulis ajaran-ajaran dan silsilah sanad keilmuan yang menjadi ciri khusus kaum sufi dan cendikia Islam dari masa ke masa.

Bab Sembilan sebagai pamungkas dan penutup, dipaparkan di dalamnya ajaran-ajaran inti Syekh Abdul Muhyi, yakni tarekat shatariyah. Syekh Abdul Muhyi merupakan orang pertama yang membawa ajaran tersebut ke Jawa, sebelum tarekat itu dianut oleh hampir semua kesultanan Islam di Jawa, karena di abad-abad itu (abad ke-17) syatariyah menjadi tarekat yang paling luas pengaruhnya dan menjadi populer. Termasuk pula dalam konteks keraton-keraton Islam, syatariyah dianut oleh para pujangga keraton (terutama keraton Kasunanan Solo dari keluarga Yasadipura yang melahirkan Ranggawarsita). Selain itu, Shatariyah (sebagaimana keterangan Tomy Kristmomy dalam disertasinya) turut membentuk wajah epistemik Islam di tubuh keraton-keraton Nusantara abad itu, sehingga wacana keilmuan Islam yang bercorak tasawuf kala itu sangat kental dengan warna shatariyah.

[custom_views]

Share on :

Facebook
X
WhatsApp
kencang77Kencang77smm panel murahKencang77 Heylinkagen slotslot77slot 77 gacor slot gacorkencang77slot gacorprediksi togel akuratprediksi togel kencang77prediksi togel terbarupengeluaran togelKabar Aktual 71Daily News Update 2006100berita update 001berita update 002berita update 003berita update 004berita update 005berita update 006berita update 007berita update 008berita update 009berita update 010berita update 011berita update 012berita update 013berita update 014berita update 015berita update 016berita update 017berita update 018berita update 019berita update 020Cerita Rakyat 2026010001Cerita Rakyat 2026010002Cerita Rakyat 2026010003Cerita Rakyat 2026010004Cerita Rakyat 2026010005Cerita Rakyat 2026010006Cerita Rakyat 2026010007Cerita Rakyat 2026010008Cerita Rakyat 2026010009Cerita Rakyat 2026010010Cerita Rakyat 2026010011Cerita Rakyat 2026010012Cerita Rakyat 2026010013Cerita Rakyat 2026010014Cerita Rakyat 2026010015Cerita Rakyat 2026010016Cerita Rakyat 2026010017Cerita Rakyat 2026010018Cerita Rakyat 2026010019Cerita Rakyat 2026010020https://www.zeverix.comberita Update 2006121berita Update 2006122berita Update 2006123berita Update 2006124berita Update 2006125berita Update 2006126berita Update 2006127berita Update 2006128berita Update 2006129berita Update 2006130berita Update 2006131berita Update 2006132berita Update 2006133berita Update 2006134berita Update 2006135berita Update 2006136berita Update 2006137berita Update 2006138berita Update 2006139berita Update 2006140berita Update 2006141berita Update 2006142berita Update 2006143berita Update 2006144berita Update 2006145berita Update 2006146berita Update 2006147berita Update 2006148berita Update 2006149berita Update 2006150berita Update 2006151berita Update 2006152berita Update 2006153berita Update 2006154berita Update 2006155berita Update 2006156berita Update 2006157berita Update 2006158berita Update 2006159berita Update 2006160Daily News 2006161Daily News 2006162Daily News 2006163Daily News 2006164Daily News 2006165Daily News 2006166Daily News 2006167Daily News 2006168Daily News 2006169Daily News 2006170Daily News 2006171Daily News 2006172Daily News 2006173Daily News 2006174Daily News 2006175Daily News 2006176Daily News 2006177Daily News 2006178Daily News 2006179Daily News 2006180Daily News 2006181Daily News 2006182Daily News 2006183Daily News 2006184Daily News 2006185Daily News 2006186Daily News 2006187Daily News 2006188Daily News 2006189Daily News 2006190Daily News 2006191Daily News 2006192Daily News 2006193Daily News 2006194Daily News 2006195Daily News 2006196Daily News 2006197Daily News 2006198Daily News 2006199Daily News 2006200Riset ilmiah 22025041Riset ilmiah 22025042Riset ilmiah 22025043Riset ilmiah 22025044Riset ilmiah 22025045Riset ilmiah 22025046Riset ilmiah 22025047Riset ilmiah 22025048Riset ilmiah 22025049Riset ilmiah 22025050Riset ilmiah 22025051Riset ilmiah 22025052Riset ilmiah 22025053Riset ilmiah 22025054Riset ilmiah 22025055Riset ilmiah 22025056Riset ilmiah 22025057Riset ilmiah 22025058Riset ilmiah 22025059Riset ilmiah 22025060Daily News12222025061Daily News12222025062Daily News12222025063Daily News12222025064Daily News12222025065Daily News12222025066Daily News12222025067Daily News12222025068Daily News12222025069Daily News12222025070Daily News12222025071Daily News12222025072Daily News12222025073Daily News12222025074Daily News12222025075Daily News12222025076Daily News12222025077Daily News12222025078Daily News12222025079Daily News12222025080Daily News12222025081Daily News12222025082Daily News12222025083Daily News12222025084Daily News12222025085Daily News12222025086Daily News12222025087Daily News12222025088Daily News12222025089Daily News12222025090Daily News12222025091Daily News12222025092Daily News12222025093Daily News12222025094Daily News12222025095Daily News12222025096Daily News12222025097Daily News12222025098Daily News12222025099Daily News12222025100Daily News 30060001Daily News 30060002Daily News 30060003Daily News 30060004Daily News 30060005Daily News 30060006Daily News 30060007Daily News 30060008Daily News 30060009Daily News 30060010Daily News 30060011Daily News 30060012Daily News 30060013Daily News 30060014Daily News 30060015Daily News 30060016Daily News 30060017Daily News 30060018Daily News 30060019Daily News 30060020Daily News 30060021Daily News 30060022Daily News 30060023Daily News 30060024Daily News 30060025Daily News 30060026Daily News 30060027Daily News 30060028Daily News 30060029Daily News 30060030Daily Update 2026171Daily Update 2026172Daily Update 2026173Daily Update 2026174Daily Update 2026175Daily Update 2026176Daily Update 2026177Daily Update 2026178Daily Update 2026179Daily Update 2026180Daily Update 2026181Daily Update 2026182Daily Update 2026183Daily Update 2026184Daily Update 2026185Daily Update 2026186Daily Update 2026187Daily Update 2026188Daily Update 2026189Daily Update 2026190Daily Update 2026191Daily Update 2026192Daily Update 2026193Daily Update 2026194Daily Update 2026195Daily Update 2026196Daily Update 2026197Daily Update 2026198Daily Update 2026199Daily Update 2026200Discover ID 202600021Discover ID 202600022Discover ID 202600023Discover ID 202600024Discover ID 202600025Discover ID 202600026Discover ID 202600027Discover ID 202600028Discover ID 202600029Discover ID 202600030Discover ID 202600031Discover ID 202600032Discover ID 202600033Discover ID 202600034Discover ID 202600035Discover ID 202600036Discover ID 202600037Discover ID 202600038Discover ID 202600039Discover ID 202600040Berita Perpustakaan 2320001Berita Perpustakaan 2320002Berita Perpustakaan 2320003Berita Perpustakaan 2320004Berita Perpustakaan 2320005Berita Perpustakaan 2320006Berita Perpustakaan 2320007Berita Perpustakaan 2320008Berita Perpustakaan 2320009Berita Perpustakaan 2320010Berita Perpustakaan 2320011Berita Perpustakaan 2320012Berita Perpustakaan 2320013Berita Perpustakaan 2320014Berita Perpustakaan 2320015Berita Perpustakaan 2320016Berita Perpustakaan 2320017Berita Perpustakaan 2320018Berita Perpustakaan 2320019Berita Perpustakaan 2320020Berita Perpustakaan 2320021Berita Perpustakaan 2320022Berita Perpustakaan 2320023Berita Perpustakaan 2320024Berita Perpustakaan 2320025Berita Perpustakaan 2320026Berita Perpustakaan 2320027Berita Perpustakaan 2320028Berita Perpustakaan 2320029Berita Perpustakaan 2320030berita alifa indonesia 60001berita alifa indonesia 60002berita alifa indonesia 60003berita alifa indonesia 60004berita alifa indonesia 60005berita alifa indonesia 60006berita alifa indonesia 60007berita alifa indonesia 60008berita alifa indonesia 60009berita alifa indonesia 60010berita alifa indonesia 60011berita alifa indonesia 60012berita alifa indonesia 60013berita alifa indonesia 60014berita alifa indonesia 60015berita alifa indonesia 60016berita alifa indonesia 60017berita alifa indonesia 60018berita alifa indonesia 60019berita alifa indonesia 60020berita alifa indonesia 60021berita alifa indonesia 60022berita alifa indonesia 60023berita alifa indonesia 60024berita alifa indonesia 60025berita alifa indonesia 60026berita alifa indonesia 60027berita alifa indonesia 60028berita alifa indonesia 60029berita alifa indonesia 60030info 20026001info 20026002info 20026003info 20026004info 20026005info 20026006info 20026007info 20026008info 20026009info 20026010info 20026011info 20026012info 20026013info 20026014info 20026015info 20026016info 20026017info 20026018info 20026019info 20026020info 20026021info 20026022info 20026023info 20026024info 20026025info 20026026info 20026027info 20026028info 20026029info 20026030berita 2026010001berita 2026010002berita 2026010003berita 2026010004berita 2026010005berita 2026010006berita 2026010007berita 2026010008berita 2026010009berita 2026010010berita 2026010011berita 2026010012berita 2026010013berita 2026010014berita 2026010015berita 2026010016berita 2026010017berita 2026010018berita 2026010019berita 2026010020berita 2026010021berita 2026010022berita 2026010023berita 2026010024berita 2026010025berita 2026010026berita 2026010027berita 2026010028berita 2026010029berita 2026010030Berita 2026010001Berita 2026010002Berita 2026010003Berita 2026010004Berita 2026010005Berita 2026010006Berita 2026010007Berita 2026010008Berita 2026010009Berita 2026010010Berita 2026010011Berita 2026010012Berita 2026010013Berita 2026010014Berita 2026010015Berita 2026010016Berita 2026010017Berita 2026010018Berita 2026010019Berita 2026010020Berita 2026010021Berita 2026010022Berita 2026010023Berita 2026010024Berita 2026010025Berita 2026010026Berita 2026010027Berita 2026010028Berita 2026010029Berita 2026010030Scatter HitamMahjong Waysberita update 202600041berita update 202600042berita update 202600043berita update 202600044berita update 202600045berita update 202600046berita update 202600047berita update 202600048berita update 202600049berita update 202600050berita update 202600051berita update 202600052berita update 202600053berita update 202600054berita update 202600055berita update 202600056berita update 202600057berita update 202600058berita update 202600059berita update 202600060berita update 202600061berita update 202600062berita update 202600063berita update 202600064berita update 202600065berita update 202600066berita update 202600067berita update 202600068berita update 202600069berita update 202600070smm murahsmm indonesiasmm panelsmm terpercayasmm internasionalBerita Perpustakaan 202680001Berita Perpustakaan 202680002Berita Perpustakaan 202680003Berita Perpustakaan 202680004Berita Perpustakaan 202680005Berita Perpustakaan 202680006Berita Perpustakaan 202680007Berita Perpustakaan 202680008Berita Perpustakaan 202680009Berita Perpustakaan 202680010Berita Perpustakaan 202680011Berita Perpustakaan 202680012Berita Perpustakaan 202680013Berita Perpustakaan 202680014Berita Perpustakaan 202680015Berita Perpustakaan 202680016Berita Perpustakaan 202680017Berita Perpustakaan 202680018Berita Perpustakaan 202680019Berita Perpustakaan 202680020Berita Perpustakaan 202680021Berita Perpustakaan 202680022Berita Perpustakaan 202680023Berita Perpustakaan 202680024Berita Perpustakaan 202680025Berita Perpustakaan 202680026Berita Perpustakaan 202680027Berita Perpustakaan 202680028Berita Perpustakaan 202680029Berita Perpustakaan 202680030Berita Journal 0001Berita Journal 0002Berita Journal 0003Berita Journal 0004Berita Journal 0005Berita Journal 0006Berita Journal 0007Berita Journal 0008Berita Journal 0009Berita Journal 0010Berita Journal 0011Berita Journal 0012Berita Journal 0013Berita Journal 0014Berita Journal 0015Berita Journal 0016Berita Journal 0017Berita Journal 0018Berita Journal 0019Berita Journal 0020Berita Journal 0021Berita Journal 0022Berita Journal 0023Berita Journal 0024Berita Journal 0025Berita Journal 0026Berita Journal 0027Berita Journal 0028Berita Journal 0029Berita Journal 0030Ilmiah 202690001Ilmiah 202690002Ilmiah 202690003Ilmiah 202690004Ilmiah 202690005Ilmiah 202690006Ilmiah 202690007Ilmiah 202690008Ilmiah 202690009Ilmiah 202690010Ilmiah 202690011Ilmiah 202690012Ilmiah 202690013Ilmiah 202690014Ilmiah 202690015Ilmiah 202690016Ilmiah 202690017Ilmiah 202690018Ilmiah 202690019Ilmiah 202690020Ilmiah 202690021Ilmiah 202690022Ilmiah 202690023Ilmiah 202690024Ilmiah 202690025Ilmiah 202690026Ilmiah 202690027Ilmiah 202690028Ilmiah 202690029Ilmiah 202690030News 2026260001News 2026260002News 2026260003News 2026260004News 2026260005News 2026260006News 2026260007News 2026260008News 2026260009News 2026260010News 2026260011News 2026260012News 2026260013News 2026260014News 2026260015News 2026260016News 2026260017News 2026260018News 2026260019News 2026260020News 2026260021News 2026260022News 2026260023News 2026260024News 2026260025News 2026260026News 2026260027News 2026260028News 2026260029News 2026260030Daily News 899890001Daily News 899890002Daily News 899890003Daily News 899890004Daily News 899890005Daily News 899890006Daily News 899890007Daily News 899890008Daily News 899890009Daily News 899890010Daily News 899890011Daily News 899890012Daily News 899890013Daily News 899890014Daily News 899890015Daily News 899890016Daily News 899890017Daily News 899890018Daily News 899890019Daily News 899890020Daily News 899890021Daily News 899890022Daily News 899890023Daily News 899890024Daily News 899890025Daily News 899890026Daily News 899890027Daily News 899890028Daily News 899890029Daily News 899890030