Raga Kayu Jiwa Manusia: Wayang Golek dan Upaya Penerjemahan Islam

Share on:

Facebook
X
WhatsApp


Lima tahun lalu, saya mendapati sebuah buku dari pemberian seorang teman setibanya di Bandung. Buku tersebut merupakan sebuah disertasi antropologi sejarah yang diterbitkan oleh Ecole Francaise d’Extreme-Orient dengan judul asli “Corps de bois, souffle humain: Le theatre de marionettes wayang golek de Java Ouest” karya Sarah Anais Andrieu. Penerbit KPG kemudian menerjemahkan dan menerbitkan buku ini dengan judul “Raga Kayu, Jiwa Manusia: Wayang Golek Sunda”. Sebuah buku yang bagi saya terbilang cukup aktual dan komprehensif, untuk ukuran studi kontemporer yang tersedia dengan lokus penelitian spasial Bandung, sekaligus bisa merangkum cakupan besar subjek kebudayaannya sebagai suatu kewilayahan masyarakat Sunda di Jawa Barat.

Studi dalam buku ini karena tergolong ke dalam etnografi partisipatif yang bersifat langsung dan spasial, maka menjadi berbeda dengan studi antropologi sejarah yang dilakukan oleh Ronit Ricci “Islam Translated” yang lebih pada pengembangan dari teks atau kisah. Kendati demikian, saya menilai keduanya memiliki kesamaan, yaitu bersumber dari khazanah hikayat Islam Asia Tenggara. Dalam buku Islam Translated subjek penelitian berpusat pada kisah seorang rahib yahudi bernama Abdullah bin Salam yang bertanya kepada Nabi secara langsung, kemudian pertanyaan-pertanyaan itu terangkum dan menjadi hikayat dalam buku seribu pertanyaan hingga rahib tersebut masuk Islam beserta murid-murid yang mengikutinya. Sementara wayang golek bersumber dari hikayat Amir Hamzah (paman Nabi), kedua hikayat ini kemudian menjadi sebuah epos dalam proses transformasi budaya dan pengislaman masyarakat Asia Tenggara di abad pertengahan.

Sebagai generasi yang terlahir di tahun menjelang 2000-an di wilayah Jawa Barat, mungkin hampir semua anak sudah tidak mengalami persentuhan dengan wayang golek. Jika pun mengalami, yaitu lakon Si Cepot yang hadir di televisi sebagai penanda masuknya bulan Ramadhan. Si Cepot muncul bak juru dakwah yang kelewat serius dengan lagaknya yang terlihat lucu dan polos. Hal tersebut menjadi sebuah fenomena baru di saat wayang sudah ditinggalkan, namun bisa bertahan dalam medium baru bernama televisi.

Meski bila kita telisik dari dua bab dalam buku yang telah diteliti oleh Sarah Anais Andrieu ini, munculnya wayang di televisi dinilai sebagai kapitalisasi wayang; wayang diletakan sebatas produk dalam industri hiburan dan penonton sebagai konsumen pendulang kapital. Di saat bersamaan, kita bisa melihat di tahun-tahun itu terjadi krisis politik (Reformasi) yang membuat wayang dihadapkan pada geger budaya atas eksistensi dirinya. Setelah di masa sebelumnya (Orde Baru), wayang dihadapkan pada propaganda politik, standarisasi, problematika identitas kelokalan serta pembentukan budaya nasional. Terlepas dari itu, sang dalang Asep Sunandar mungkin tidak memiliki pilihan lain dalam mengenalkan wayang pada khalayak yang lebih luas melalui televisi.

Sampai di tahap ini, saya pribadi bisa menilai mengapa sang dalang Asep Sunandar membuat lakon Si Cepot dengan wajah berwarna merah; boleh dikata hal itu merupakan simbol kemarahan pada situasi zaman yang dihadapi, bisa juga diartikan sebagai kesakitan eksistensial, atau boleh jadi di masa krisis (Reformasi) itu Si Cepot justru mengalami pencerahan (terlahir kembali) layaknya bayi yang berwarna merah di sekujur tubuhnya. Namun dalam tulisan ini saya tidak hendak membahas perkara itu. Saya lebih tertarik bagaimana wayang golek yang merupakan warisan para penyebar Islam (Walisanga) bisa sampai dan digunakan di Jawa Barat, juga bagaimana para dalang (khususnya Asep Sunandar yang kebetulan menjadi subjek dalam penelitian buku) mengartikulasikan ulang wayang dalam upaya visi awalnya untuk menerjemahkan Islam dalam konteks kiwari.

Hampir semua peneliti dan praktisi wayang memiliki kesimpulan bahwa wayang merupakan salah satu peninggalan kreasi seni paling agung yang diwarisi bangsa Indonesia. Beberapa peneliti menilai awal kemunculan wayang digunakan pada periode Hindu dan sumber-sumber pembentuk ceritanya adalah epos Mahabrata dan Ramayana. Di samping itu, banyak pula ahli dan peneliti lain yang berpandangan bahwa wayang dalam bentuk, lakon-lakon, dan kisahnya yang diterima hari ini merupakan warisan Islam di masa Wali Sembilan (Walisanga). Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai dai (pendakwah) di masa formatur awal Islam, menggunakan kulit hewan (wayang kulit) sebagai medium penerjemahan dan penyebaran agama. Sementara itu, Sunan Giri dan Sunan Kudus dianggap yang memulai reformasi dan reorganisasi wayang di masa setelahnya yang lebih beragam.

Bagi Sarah Anais Andrieu dalam buku ini, Sunan Giri selain menciptakan wayang gedog pada tahun 1553 yang menampilkan kisah-kisah mengenai Pangeran Panji yang legendaris mencari cinta sejati, juga dianggap sebagai penemu wayang golek yang kemudian dikenal dan digunakan di Jawa Barat kini. Tambahnya, wayang golek pada mulanya digunakan sebagai pendukung cerita Amir Hamzah (paman Nabi) yang mendefinisikan secara bersamaan repertoar wayang menak (di daerah Kudus) dan wayang cepak/papak (di daerah Cirebon). Kemudian dalam wawancaranya kepada sang dalang Asep Sunandar, beranggapan bahwa “wayang golek tidak lebih dari sekadar modernisasi dari wayang kulit, berbentuk tiga dimensi: bertujuan lebih mendekatkan wayang pada masyarakat; yang analogi antar tokoh serta orangnya harus dipermudah, dan supaya masyarakat tetap mencintai wayang”. (Lihat hlm 50-53).

Bagi saya pribadi, wayang golek yang terbuat dari kayu menjadi ciri khusus seiring berjalannya proses pengislaman masyarakat Jawa. Hal tersebut berdasar pada keterangan Denys Lombard dan M.C Ricklefs, yang berpendapat bahwa kedatangan Islam secara nyata menyebabkan terhentinya kegiatan pembangunan arsitektural tertentu (batu) yang lama diwariskan, yang kemudian beralih menjadi kayu. Begitu memasuki fase Islam, penggunaan kayu menjadi corak baru yang mencirikan pembangunan masjid Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa dan tempat berundingnya para wali sembilan (Walisanga). Masjid Demak kemudian menjadi legitimasi dan otoritas religius Islam pertama di Jawa.

Hingga dalam perkembangan selanjutnya, penggunaan kayu menjadi penanda umum bangunan masjid-masjid dan keraton-keraton Kesultanan Islam di kepulauan Nusantara. Seiring terjadinya proses islamisasi dengan perkembangan kota-kota bandar (kosmopolit) di semua kepulauan itu, Sarah Anais Andrieu dalam buku ini menyebut Banten dan Cirebon yang terletak di pulau Jawa bagian Barat memiliki dukungan dari Demak. Karenanya, pada masa itu para bangsawan Sunda sering bepergian secara teratur untuk menyempurnakan pengetahuan mereka (Lihat hlm, 47-50).


Sunda-Jawa: Antara Pengaruh dan Dominasi

Tome Pieres dalam catatannya “Summa Oriental” menyebut, di pulau Jawa ia melihat dua kerajaan Hindu besar seperti meriam kembar, yaitu Padjajaran dan Majapahit. Di periode sebelumnya, dalam catatan-catatan sejarah, kerajaan Hindu pertama berawal di Jawa bagian Barat, yaitu Tarumanegara (abad ke-4 hingga ke-7) hingga berkembang dan mencapai masa keemasannya di Jawa bagian Timur yaitu Majapahit, lalu di penghujung keruntuhan dan peralihannya, Islam bersemai di Jawa bagian Tengah yaitu di Demak.

Di fase peralihan dan formatur Islam paling awal ini, saya pribadi hampir tidak menemukan term atau pembeda diri antara Jawa dan Sunda, karena pasca runtuhnya Padjajaran, tidak ada kekuasaan politik dan otoritas religius yang menggantikannya, hal serupa mungkin juga terjadi pada Jawa bagian Timur pasca runtuhnya Majapahit. Sehingga mungkin saja, tapal batas etnisitas dalam pengertian barunya (dari pemerintah Hindia Belanda) yang muncul setelahnya tidak penting lagi, karena yang amat krusial saat itu adalah peralihan menuju Islam. Demak sebagaimana tinjauan yang dilakukan oleh De Graaf dan Pigeaud, menjadi kerajaan dan otoritas religius Islam pertama dalam mengisi kekosongan itu.

Sebagaimana telah diuraikan di alinea sebelumnya, kita melihat para pembesar atau kaum menak Sunda pada saat itu sering bepergian ke Demak secara teratur untuk menyempurnakan pengetahuan (Islam) mereka. Sebuah potret serupa dilakukan para cendikia Islam di kepulauan Nusantra yang singgah dalam waktu lama di Malaka (sebelum berangkat ke Mekah), setelah menyempurnakan pengetahuan Islamnya di Mekah, para cendikia Islam ini kemudian menghimpun diri dalam jejaring ulama al-Jawi.

Namun bila dalam perkembangan selanjutnya terjadi pengikisan akibat dari situasi politik kolonial dan Mataram Islam, maka itu benar dan menjadi kompleks; politik kolonial menciptakan narasi sejarah perang bubat yang sangat politis, dan Sultan Agung (1620) menyatukan Sunda bagian timur (Sumedang Larang) sebagai wilayah taklukan Mataram Islam. Dengan demikian, Zanten W. Van dalam kajian etnomusikologi gaya Cianjuran, menyebut Priangan menjadi nama kelompok daerah-daerah administratif di bawah pemerintahan Mataram Islam. Lebih lanjut ia menemukan, di bawah dominasi ini bupati-bupati lokal daerah Priangan hanya memperoleh status rendah dan harus memberikan kepada pemerintah pusat sejumlah produk daerah dengan jumlah yang sangat besar, serta melayani sendiri sang Sultan, terutama saat perayaan acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada masa dominasi ini pula, satu set gamelan salendro/pelog diimpor dari Mataram (Jawa Tengah) ke Priangan. Zanten W. Van hanya menyebut Banten sebagai pengecualian, yang di saat itu berstatus merdeka dari dominasi Mataram Islam.

Dalam proses peralihan masyarakat Sunda pada Islam, studi-studi kontemprer yang tersedia sebagai bahan tinjauan sangat terbatas (karena sejak awal memang sudah sangat terbatas), lebih banyak studi yang menjadi kelanjutan dari studi-studi para sarjana kolonial di periode pertama, dan lebih berpusat pada studi di Jawa dalam pengertiannya hari ini sebagai hasil peninggalan Mataram Islam. Sehingga term Jawa yang kemudian dipahami, menjadi oposisi biner dari Sunda, dan yang lainnya. Pembedaan Jawa-Sunda selanjutnya sangat mungkin diciptakan oleh pemerintah kolonial, di samping karena ekspansinya dengan melakukan politik adu domba (devide et impera), ditambah kecenderungan para ilmuwan kolonial yang selalu mengembalikan tanah jajahan pada masa Hindu (Padjajaran-Majapahit) sebagai fondasi masa lalunya (foundational past), padahal keduanya sudah runtuh dan tidak ada.

Di saat yang sama Islam sedang bergerak menjadi kekuatan transformasi dan fondasi baru, namun hal tersebut dinilai dapat mengancam kuasa kolonial yang mulai mapan, sehingga pemerintah kolonial berkepentingan untuk meredam kekuatan baru (Islam) itu dengan melakukan segregasi politik. Di kemudian hari, politik segregasi ini mampu memecah kekuatan politik Islam yang pada masa itu bermuara di Demak, menjadi kepingan kerajaan-kerajaan kecil di sepanjang pantai utara Jawa, termasuk dengan berdirinya kerajaan Banten dan Cirebon di Jawa bagian Barat.

Wayang Golek dan Penerjemahan Islam

Sunan Kalijaga merupakan satu di antara sembilan wali (Walisanga) dan dikenal yang menggubah wayang dengan bentuk barunya (wayang kulit) hari ini. Sunan Kalijaga pula yang membawa wayang kulit tersebut dalam proses penyebaran Islamnya sampai di Cirebon. Sedangkan Cirebon, sebagaimana kita tahu merupakan wilayah kesultanan yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Dari situ kita bisa melihat perbedaan jalan yang dilalui oleh kedua wali di antara wali sembilan (Walisanga) tersebut. Jalan dakwah (kebudayaan) Sunan Kalijaga berbeda dengan Sunan Gunung Jati yang jalan dakwahnya di wilayah pendidikan dan politik. Hingga kemudian setelah wayang kulit itu sampai dan diterima oleh masyarakat Cirebon, wayang kulit kemudian mengalami perkembangan.

Kembali ke uraian di awal alinea, Sarah Anais Andrieu berpendapat bahwa Sunan Giri merupakan penemu wayang golek, meskipun bila ditelusuri lebih lanjut dapat memunculkan perdebatan; karena ada yang menyebut penemunya adalah Sunan Kudus. Hal ini berdasar karena repertoar wayang menak dalam cerita Amir Hamzah (paman Nabi) ditampilkan di Kudus. Perdebatan tersebut bagi saya malah semakin mempertegas hipotesa sebelumnya bahwa tapal batas Jawa-Sunda di periode Islam awal itu tidak ada; bila dikata Sunan Giri sebagai penemu, sebagaimana kita tahu Sunan Giri berasal dari Blambangan dan menyebarkan Islamnya dikemudian hari di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Begitu pula jika penemu wayang golek itu adalah Sunan Kudus, ia juga berada dan kini menjadi wilayah yang berada di ujung Jawa Tengah. Terlepas dari itu semua, wayang golek kemudian sampai dan populer di Jawa Barat.

Dengan populer dan bertahannya wayang golek di masyarakat Sunda, seiring dengan beralih dan transformasinya pada Islam, memperlihatkan bahwa wayang golek berhasil menjadi media kreatif dalam visi awalnya untuk menerjemahkan Islam di wilayah Sunda. Islam dalam keterangan al-Qur’an adalah rahmat bagi alam semesta, ia melingkupi semua batas-batas identitas yang terangkum oleh kebudayaannya yang berbeda-beda. Bersamaan dengan itu, Islam (al-Qur’an) di peruntukan untuk manusia. Dengan demikian, ia perlu diterjemahkan dalam bahasa dan rangkum kebudayaan yang berbeda-beda itu untuk bisa dimengerti. Sehingga, kalam-kalam langit al-Qur’an (Islam) bisa hadir di bumi dan aktual dalam kehidupan manusia. Maka hanya para utusan (Walisanga), sebagai pewaris ilmunya para Nabi, yang kemudian diberi kemampuan untuk menerjemahkan Islam ke dalam kebudayaan masyarakatnya secara utuh.

Di masyarakat Sunda kiwari, para pendakwah (dai) seperti halnya sang dalang Asep Sunandar dengan ikonnya Si Cepot yang telah disebut di awal, merupakan upaya yang sebelumnya telah berjalan dan turut ia warisi dari wali sembilan (Walisanga), yaitu menerjemahkan Islam untuk ia hadir dan dapat dimengerti di setiap zaman.

Si Cepot bisa populer karena ia mampu merepresentasikan rangkum kebudayaan manusia Sunda yang bisa kita saksikan memang seperti itu. Sepintas ia mirip Si Kabayan yang abai terhadap zaman, namun dalam banyak hal ucapan-ucapan yang terlihat spontan memiliki kedalaman. Gaya dan nada bicaranya seperti para dai (mubalig) pada umumnya. Namun yang membedakan, Si Cepot menyampaikan pesan agama tidak dengan doktrin yang didaktis, namun dengan kisah-kisah para Nabi dan cerita masa lalu manusia suci (para wali) yang memunculkan metafor-metafor baru.

Jika para dai (mubalig) pada umumnya berceramah dengan ciri umum apa yang disebut mauidzoh khasanah (pesan-pesan yang baik), namun dai Si Cepot berceramah dengan kisah (hikmah). Dan kisah (hikmah) ini kemudian yang menjadi ciri umum dalam dunia pewayangan. Kisah-kisah (hikmah) itu seringkali sulit dimengerti, untuk mencernanya ia lebih dekat pada mitos ketimbang akal budi. Namun dengan begitu, seiring larutnya malam dalam pertunjukan wayang, kisah (hikmah) tersebut justru mampu membuat khalayak penonton ikut larut dalam permenungan. Selain itu, penyampaian hikmah (kisah) tersebut tidak dalam pengutaraannya secara langsung, namun dengan bodor dan cawokah (humor) yang dinilai lebih sesuai dengan ciri kebudayaan masyarakatnya. Mungkin memang dengan begitu, pesan dari kisah (hikmah) bisa sampai seiring dengan tujuan diciptakannya wayang, yaitu selain sebagai tontonan juga sebagai tuntunan.

[custom_views]

Share on :

Facebook
X
WhatsApp
kencang77Kencang77smm panel murahKencang77 Heylinkagen slotslot77slot 77 gacor slot gacorkencang77slot gacorprediksi togel akuratprediksi togel kencang77prediksi togel terbarupengeluaran togelKabar Aktual 71Daily News Update 2006100berita update 001berita update 002berita update 003berita update 004berita update 005berita update 006berita update 007berita update 008berita update 009berita update 010berita update 011berita update 012berita update 013berita update 014berita update 015berita update 016berita update 017berita update 018berita update 019berita update 020Cerita Rakyat 2026010001Cerita Rakyat 2026010002Cerita Rakyat 2026010003Cerita Rakyat 2026010004Cerita Rakyat 2026010005Cerita Rakyat 2026010006Cerita Rakyat 2026010007Cerita Rakyat 2026010008Cerita Rakyat 2026010009Cerita Rakyat 2026010010Cerita Rakyat 2026010011Cerita Rakyat 2026010012Cerita Rakyat 2026010013Cerita Rakyat 2026010014Cerita Rakyat 2026010015Cerita Rakyat 2026010016Cerita Rakyat 2026010017Cerita Rakyat 2026010018Cerita Rakyat 2026010019Cerita Rakyat 2026010020https://www.zeverix.comberita Update 2006121berita Update 2006122berita Update 2006123berita Update 2006124berita Update 2006125berita Update 2006126berita Update 2006127berita Update 2006128berita Update 2006129berita Update 2006130berita Update 2006131berita Update 2006132berita Update 2006133berita Update 2006134berita Update 2006135berita Update 2006136berita Update 2006137berita Update 2006138berita Update 2006139berita Update 2006140berita Update 2006141berita Update 2006142berita Update 2006143berita Update 2006144berita Update 2006145berita Update 2006146berita Update 2006147berita Update 2006148berita Update 2006149berita Update 2006150berita Update 2006151berita Update 2006152berita Update 2006153berita Update 2006154berita Update 2006155berita Update 2006156berita Update 2006157berita Update 2006158berita Update 2006159berita Update 2006160Daily News 2006161Daily News 2006162Daily News 2006163Daily News 2006164Daily News 2006165Daily News 2006166Daily News 2006167Daily News 2006168Daily News 2006169Daily News 2006170Daily News 2006171Daily News 2006172Daily News 2006173Daily News 2006174Daily News 2006175Daily News 2006176Daily News 2006177Daily News 2006178Daily News 2006179Daily News 2006180Daily News 2006181Daily News 2006182Daily News 2006183Daily News 2006184Daily News 2006185Daily News 2006186Daily News 2006187Daily News 2006188Daily News 2006189Daily News 2006190Daily News 2006191Daily News 2006192Daily News 2006193Daily News 2006194Daily News 2006195Daily News 2006196Daily News 2006197Daily News 2006198Daily News 2006199Daily News 2006200Riset ilmiah 22025041Riset ilmiah 22025042Riset ilmiah 22025043Riset ilmiah 22025044Riset ilmiah 22025045Riset ilmiah 22025046Riset ilmiah 22025047Riset ilmiah 22025048Riset ilmiah 22025049Riset ilmiah 22025050Riset ilmiah 22025051Riset ilmiah 22025052Riset ilmiah 22025053Riset ilmiah 22025054Riset ilmiah 22025055Riset ilmiah 22025056Riset ilmiah 22025057Riset ilmiah 22025058Riset ilmiah 22025059Riset ilmiah 22025060Daily News12222025061Daily News12222025062Daily News12222025063Daily News12222025064Daily News12222025065Daily News12222025066Daily News12222025067Daily News12222025068Daily News12222025069Daily News12222025070Daily News12222025071Daily News12222025072Daily News12222025073Daily News12222025074Daily News12222025075Daily News12222025076Daily News12222025077Daily News12222025078Daily News12222025079Daily News12222025080Daily News12222025081Daily News12222025082Daily News12222025083Daily News12222025084Daily News12222025085Daily News12222025086Daily News12222025087Daily News12222025088Daily News12222025089Daily News12222025090Daily News12222025091Daily News12222025092Daily News12222025093Daily News12222025094Daily News12222025095Daily News12222025096Daily News12222025097Daily News12222025098Daily News12222025099Daily News12222025100Daily News 30060001Daily News 30060002Daily News 30060003Daily News 30060004Daily News 30060005Daily News 30060006Daily News 30060007Daily News 30060008Daily News 30060009Daily News 30060010Daily News 30060011Daily News 30060012Daily News 30060013Daily News 30060014Daily News 30060015Daily News 30060016Daily News 30060017Daily News 30060018Daily News 30060019Daily News 30060020Daily News 30060021Daily News 30060022Daily News 30060023Daily News 30060024Daily News 30060025Daily News 30060026Daily News 30060027Daily News 30060028Daily News 30060029Daily News 30060030Daily Update 2026171Daily Update 2026172Daily Update 2026173Daily Update 2026174Daily Update 2026175Daily Update 2026176Daily Update 2026177Daily Update 2026178Daily Update 2026179Daily Update 2026180Daily Update 2026181Daily Update 2026182Daily Update 2026183Daily Update 2026184Daily Update 2026185Daily Update 2026186Daily Update 2026187Daily Update 2026188Daily Update 2026189Daily Update 2026190Daily Update 2026191Daily Update 2026192Daily Update 2026193Daily Update 2026194Daily Update 2026195Daily Update 2026196Daily Update 2026197Daily Update 2026198Daily Update 2026199Daily Update 2026200Discover ID 202600021Discover ID 202600022Discover ID 202600023Discover ID 202600024Discover ID 202600025Discover ID 202600026Discover ID 202600027Discover ID 202600028Discover ID 202600029Discover ID 202600030Discover ID 202600031Discover ID 202600032Discover ID 202600033Discover ID 202600034Discover ID 202600035Discover ID 202600036Discover ID 202600037Discover ID 202600038Discover ID 202600039Discover ID 202600040Berita Perpustakaan 2320015Berita Perpustakaan 2320016Berita Perpustakaan 2320017Berita Perpustakaan 2320018Berita Perpustakaan 2320019Berita Perpustakaan 2320020Berita Perpustakaan 2320021Berita Perpustakaan 2320022Berita Perpustakaan 2320023Berita Perpustakaan 2320024Berita Perpustakaan 2320025Berita Perpustakaan 2320026Berita Perpustakaan 2320027Berita Perpustakaan 2320028Berita Perpustakaan 2320029Berita Perpustakaan 2320030berita alifa indonesia 60001berita alifa indonesia 60002berita alifa indonesia 60003berita alifa indonesia 60004berita alifa indonesia 60005berita alifa indonesia 60006berita alifa indonesia 60007berita alifa indonesia 60008berita alifa indonesia 60009berita alifa indonesia 60010berita alifa indonesia 60011berita alifa indonesia 60012berita alifa indonesia 60013berita alifa indonesia 60014berita alifa indonesia 60015berita alifa indonesia 60016berita alifa indonesia 60017berita alifa indonesia 60018berita alifa indonesia 60019berita alifa indonesia 60020berita alifa indonesia 60021berita alifa indonesia 60022berita alifa indonesia 60023berita alifa indonesia 60024berita alifa indonesia 60025berita alifa indonesia 60026berita alifa indonesia 60027berita alifa indonesia 60028berita alifa indonesia 60029berita alifa indonesia 60030info 20026001info 20026002info 20026003info 20026004info 20026005info 20026006info 20026007info 20026008info 20026009info 20026010info 20026011info 20026012info 20026013info 20026014info 20026015info 20026016info 20026017info 20026018info 20026019info 20026020info 20026021info 20026022info 20026023info 20026024info 20026025info 20026026info 20026027info 20026028info 20026029info 20026030berita 2026010001berita 2026010002berita 2026010003berita 2026010004berita 2026010005berita 2026010006berita 2026010007berita 2026010008berita 2026010009berita 2026010010berita 2026010011berita 2026010012berita 2026010013berita 2026010014berita 2026010015berita 2026010016berita 2026010017berita 2026010018berita 2026010019berita 2026010020berita 2026010021berita 2026010022berita 2026010023berita 2026010024berita 2026010025berita 2026010026berita 2026010027berita 2026010028berita 2026010029berita 2026010030Berita 2026010001Berita 2026010002Berita 2026010003Berita 2026010004Berita 2026010005Berita 2026010006Berita 2026010007Berita 2026010008Berita 2026010009Berita 2026010010Berita 2026010011Berita 2026010012Berita 2026010013Berita 2026010014Berita 2026010015Berita 2026010016Berita 2026010017Berita 2026010018Berita 2026010019Berita 2026010020Berita 2026010021Berita 2026010022Berita 2026010023Berita 2026010024Berita 2026010025Berita 2026010026Berita 2026010027Berita 2026010028Berita 2026010029Berita 2026010030Scatter HitamMahjong Waysberita update 202600041berita update 202600042berita update 202600043berita update 202600044berita update 202600045berita update 202600046berita update 202600047berita update 202600048berita update 202600049berita update 202600050berita update 202600051berita update 202600052berita update 202600053berita update 202600054berita update 202600055berita update 202600056berita update 202600057berita update 202600058berita update 202600059berita update 202600060berita update 202600061berita update 202600062berita update 202600063berita update 202600064berita update 202600065berita update 202600066berita update 202600067berita update 202600068berita update 202600069berita update 202600070smm murahsmm indonesiasmm panelsmm terpercayasmm internasionalBerita Perpustakaan 202680001Berita Perpustakaan 202680002Berita Perpustakaan 202680003Berita Perpustakaan 202680004Berita Perpustakaan 202680005Berita Perpustakaan 202680006Berita Perpustakaan 202680007Berita Perpustakaan 202680008Berita Perpustakaan 202680009Berita Perpustakaan 202680010Berita Perpustakaan 202680011Berita Perpustakaan 202680012Berita Perpustakaan 202680013Berita Perpustakaan 202680014Berita Perpustakaan 202680015Berita Perpustakaan 202680016Berita Perpustakaan 202680017Berita Perpustakaan 202680018Berita Perpustakaan 202680019Berita Perpustakaan 202680020Berita Perpustakaan 202680021Berita Perpustakaan 202680022Berita Perpustakaan 202680023Berita Perpustakaan 202680024Berita Perpustakaan 202680025Berita Perpustakaan 202680026Berita Perpustakaan 202680027Berita Perpustakaan 202680028Berita Perpustakaan 202680029Berita Perpustakaan 202680030Berita Journal 0001Berita Journal 0002Berita Journal 0003Berita Journal 0004Berita Journal 0005Berita Journal 0006Berita Journal 0007Berita Journal 0008Berita Journal 0009Berita Journal 0010Berita Journal 0011Berita Journal 0012Berita Journal 0013Berita Journal 0014Berita Journal 0015Berita Journal 0016Berita Journal 0017Berita Journal 0018Berita Journal 0019Berita Journal 0020Berita Journal 0021Berita Journal 0022Berita Journal 0023Berita Journal 0024Berita Journal 0025Berita Journal 0026Berita Journal 0027Berita Journal 0028Berita Journal 0029Berita Journal 0030Ilmiah 202690001Ilmiah 202690002Ilmiah 202690003Ilmiah 202690004Ilmiah 202690005Ilmiah 202690006Ilmiah 202690007Ilmiah 202690008Ilmiah 202690009Ilmiah 202690010Ilmiah 202690011Ilmiah 202690012Ilmiah 202690013Ilmiah 202690014Ilmiah 202690015Ilmiah 202690016Ilmiah 202690017Ilmiah 202690018Ilmiah 202690019Ilmiah 202690020Ilmiah 202690021Ilmiah 202690022Ilmiah 202690023Ilmiah 202690024Ilmiah 202690025Ilmiah 202690026Ilmiah 202690027Ilmiah 202690028Ilmiah 202690029Ilmiah 202690030News 2026260001News 2026260002News 2026260003News 2026260004News 2026260005News 2026260006News 2026260007News 2026260008News 2026260009News 2026260010News 2026260011News 2026260012News 2026260013News 2026260014News 2026260015News 2026260016News 2026260017News 2026260018News 2026260019News 2026260020News 2026260021News 2026260022News 2026260023News 2026260024News 2026260025News 2026260026News 2026260027News 2026260028News 2026260029News 2026260030Daily News 899890001Daily News 899890002Daily News 899890003Daily News 899890004Daily News 899890005Daily News 899890006Daily News 899890007Daily News 899890008Daily News 899890009Daily News 899890010Daily News 899890011Daily News 899890012Daily News 899890013Daily News 899890014Daily News 899890015Daily News 899890016Daily News 899890017Daily News 899890018Daily News 899890019Daily News 899890020Daily News 899890021Daily News 899890022Daily News 899890023Daily News 899890024Daily News 899890025Daily News 899890026Daily News 899890027Daily News 899890028Daily News 899890029Daily News 899890030Berita Update 2689001Berita Update 2689002Berita Update 2689003Berita Update 2689004Berita Update 2689005Berita Update 2689006Berita Update 2689007Berita Update 2689008Berita Update 2689009Berita Update 2689010Berita Update 2689011Berita Update 2689012Berita Update 2689013Berita Update 2689014Berita Update 2689015Berita Update 2689016Berita Update 2689017Berita Update 2689018Berita Update 2689019Berita Update 2689020Berita Update 2689021Berita Update 2689022Berita Update 2689023Berita Update 2689024Berita Update 2689025Berita Update 2689026Berita Update 2689027Berita Update 2689028Berita Update 2689029Berita Update 2689030Berita Perpustakaan 2320031Berita Perpustakaan 2320032Berita Perpustakaan 2320033Berita Perpustakaan 2320034Berita Perpustakaan 2320035Berita Perpustakaan 2320036Berita Perpustakaan 2320037Berita Perpustakaan 2320038Berita Perpustakaan 2320039Berita Perpustakaan 2320040Berita Perpustakaan 2320041Berita Perpustakaan 2320042Berita Perpustakaan 2320043Berita Perpustakaan 2320044Berita Perpustakaan 2320045Berita Perpustakaan 2320046Berita Perpustakaan 2320047Berita Perpustakaan 2320048Berita Perpustakaan 2320049Berita Perpustakaan 2320050Berita Perpustakaan 2320051Berita Perpustakaan 2320052Berita Perpustakaan 2320053Berita Perpustakaan 2320054Berita Perpustakaan 2320055Berita Perpustakaan 2320056Berita Perpustakaan 2320057Berita Perpustakaan 2320058Berita Perpustakaan 2320059Berita Perpustakaan 2320060