
Rektor Universitas Riyadlul Ulum (UNIRU) menghadiri deklarasi Konsorsium Perguruan Tinggi Pesantren di Ponorogo guna memperkuat sinergi dan menjawab tantangan pendidikan tinggi Islam di abad ke-21.
PONOROGO — Rektor Universitas Riyadlul Ulum (UNIRU), Dr. K.H. Mahmud Farid, M.Pd., menghadiri Deklarasi Konsorsium Perguruan Tinggi Pesantren yang bertempat di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Perhelatan bersejarah yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Ahad (20-21/6/2026) ini digelar bersamaan dengan momentum peringatan seabad (100 tahun) berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pembentukan konsorsium ini diproyeksikan menjadi tonggak baru integrasi sistem nilai kepesantrenan dengan keilmuan akademis pada tingkat universitas. Kehadiran para pimpinan institusi dari berbagai wilayah di Indonesia ini menegaskan komitmen bersama untuk meningkatkan standardisasi dan daya saing global lembaga pendidikan tinggi berbasis Islam.
Menjawab Tantangan Abad ke-21
Ketua Konsorsium Perguruan Tinggi Pesantren terpilih yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, memaparkan landasan strategis dibentuknya wadah integratif ini. Menurutnya, transformasi model pendidikan mutlak diperlukan demi relevansi lulusan di era modern.
“Perguruan tinggi pesantren hadir untuk menjawab tantangan di abad 21, setelah para pendahulu berhasil memberikan pendidikan alternatif berupa sistem pendidikan pesantren modern,” ujar Prof. Hamid dalam sambutannya.
Pakar filsafat Islam terkemuka di tanah air ini juga menggarisbawahi keunggulan struktural yang dimiliki oleh perguruan tinggi berbasis pesantren. Pola pengasuhan intensif dinilai menjadi kunci diferensiasi yang positif. “Sistem pendidikan dan pengajaran untuk universitas Islam yang paling efektif untuk belajar adalah sistem universitas yang diasramakan,” tambahnya.
Katalisator Kemajuan dan Pemetaan Anggota
Secara kontekstual, Konsorsium Perguruan Tinggi Pesantren dibentuk sebagai wahana kolaborasi aktif antarkampus yang memiliki rumpun ekosistem serupa. Organisasi ini diharapkan mampu menjadi katalisator akselerasi kemajuan guna mengurai hambatan operasional yang kerap dihadapi, seperti keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), tata kelola finansial, hingga adaptabilitas terhadap regulasi dan dinamika geopolitik.
Pertemuan ini memetakan visi jangka panjang untuk menaikkan kelas model pendidikan pesantren. Jika para kiai pendahulu—khususnya para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor—sukses mempelopori sistem pesantren modern di tingkat menengah, maka tugas generasi saat ini adalah mewujudkannya pada klaster pendidikan tinggi.
Hingga saat deklarasi, konsorsium tercatat telah memiliki 32 anggota institusi perguruan tinggi yang terdiri dari universitas, institut, sekolah tinggi, dan ma’had aly. Dari data tersebut, terdapat enam institusi yang telah berbentuk universitas penuh, yaitu:
1. Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor
2. Universitas Cordova (UNDOVA)
3. Universitas Darunnajah (UDN)
4. Universitas La Tansa Mashiro (ULM)
5. Universitas Riyadlul Ulum (UNIRU)
6. Universitas Islam Al-Amien (UNIA)
Program Strategis dan Proyeksi ke Depan
Sebagai langkah konkret pascadeklarasi, konsorsium telah merumuskan cetak biru program kerja yang berfokus pada penguatan kapasitas institusional anggota di berbagai aspek. Penguatan ini mencakup eskalasi mutu dan kuantitas riset, pengembangan kapasitas akademik SDM, diversifikasi serta kemandirian finansial, hingga perbaikan fasilitas operasional secara komprehensif.
Selain mengoptimalkan performa internal para anggota yang telah bergabung, konsorsium ini juga mengemban misi ekspansif. Lembaga ini berkomitmen untuk mendorong, mendampingi, serta memberikan arahan bagi pesantren-pesantren lain di Indonesia yang potensial untuk turut mendirikan perguruan tinggi pesantren secara mandiri.
Melalui sinergi terstruktur ini, masa depan ekosistem pendidikan Islam diharapkan dapat tumbuh lebih solid. Momentum satu abad Gontor diyakini akan menjadi batu pijakan penting dalam mewujudkan harapan Prof. Hamid dan para pendiri lembaga agar pendidikan pesantren mampu menghadirkan pendidikan tinggi alternatif yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh dalam karakter moral keagamaan di kancah global. []