Upgrade Pengalaman Mondok di Condong: Mengapa Belajar di SMA Tidak Sama dengan di SMP

Share on:

Facebook
X
WhatsApp

Di Pesantren Condong, mondok adalah proses bertumbuh—secara intelektual, sosial, dan personal—yang dirancang bertahap sesuai kesiapan usia dan pengalaman para santri. Untuk itu, Pesantren merancang perbedaan pengalaman belajar santri antara tingkat SMP dan SMA, yang disesuaikan dengan kesiapan belajar mereka dan diarahkan untuk membentuk pribadi santri secara utuh. Lalu, apa sebenarnya yang membuat pengalaman mondok di Condong di tingkat SMA dan SMP terasa berbeda? Tulisan berikut akan mengulas jawabannya.

Fondasi di SMP, Pendalaman di SMA

Pada jenjang SMP (kelas 1–3), fokus utama pendidikan adalah penanaman dasar-dasar keislaman dan keilmuan. Santri diarahkan untuk memahami konsep-konsep pokok, baik dalam aspek agama, bahasa, keilmuan, maupun kedisiplinan hidup di pesantren. Metode pembelajaran dirancang seimbang antara teori dan praktik, namun orientasinya masih pada pembentukan fondasi yang kokoh. Di fase ini, santri belajar menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan pondok, membangun kebiasaan baik, serta mengenal nilai-nilai dasar yang akan menjadi bekal mereka ke tahap selanjutnya.

Memasuki jenjang SMA (kelas 4–6), pendekatan pendidikan mulai bergeser. Santri tidak lagi hanya dituntut memahami konsep dasar, tetapi juga diajak melangkah lebih jauh ke tahap aplikasi dan pengembangan. Pengetahuan yang sebelumnya dipelajari kini diuji dalam konteks kehidupan nyata, baik di lingkungan pesantren maupun dalam simulasi peran sosial yang lebih luas. Di sinilah perbedaan pengalaman itu terasa semakin nyata.

Pendidikan Kepemimpinan: Belajar Memimpin dari Kehidupan Sehari-hari

Salah satu pembeda paling menonjol antara pengalaman belajar di tingkat SMP dan SMA di Condong adalah pendidikan kepemimpinan. Di tingkat SMA, santri mulai diberikan pelatihan, penugasan, dan tanggung jawab nyata melalui berbagai media. Mereka terlibat aktif dalam organisasi ekstrakurikuler, kepanitiaan kegiatan besar pesantren, hingga organisasi santri.

Santri SMA belajar menjadi pengurus yang membina adik-adik kelasnya, baik dalam organisasi ekstrakurikuler maupun di tingkat rayon. Khusus kelas 5, mereka dipercaya mengelola rayon: mengatur manajemen santri, menjaga kebersihan dan ketertiban, serta menegakkan disiplin, termasuk disiplin bahasa. Tanggung jawab ini mengajarkan mereka tentang kepemimpinan praktis—bagaimana mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan bekerja dalam tim.

Di puncaknya, santri kelas akhir (kelas 6 KMI) mengemban amanah di Organisasi Santri Pesantren Condong (OSPC). Di level ini, ruang lingkup tanggung jawab meluas ke tingkat pondok, mencakup berbagai dimensi seperti kedisiplinan, kebersihan, bahasa, hingga unit usaha. Pendidikan kepemimpinan tidak lagi bersifat teoritis, melainkan hadir secara holistik dalam kehidupan sehari-hari santri.

Tujuannya jelas: membentuk generasi muda Islam yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan, mulai dari lingkup keluarga hingga masyarakat luas. Santri diharapkan tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi mampu memberi manfaat bagi orang lain.

Pendidikan Kemasyarakatan: Menyiapkan Santri Kembali ke Tengah Umat

Perbedaan lain yang signifikan adalah intensitas pendidikan kemasyarakatan di tingkat SMA. Jika di SMP santri masih berfokus pada pembinaan internal, maka di SMA mereka mulai dipersiapkan untuk berinteraksi dan berkontribusi di masyarakat.

Santri SMA dibekali berbagai keterampilan sosial-keagamaan, seperti memimpin tahlilan, mengurus jenazah (tajhizun janazah), menjadi imam, menyampaikan khutbah Jumat, hingga keterampilan praktis khas santri putri seperti memasak dan merawat bayi. Semua ini dirancang agar santri tidak canggung ketika kelak kembali ke masyarakat dan dihadapkan pada peran-peran sosial yang nyata.

Pada kelas akhir, pendidikan kemasyarakatan diberikan dengan intensitas yang lebih tinggi. Ada praktik mengajar (tarbiyah ‘amaliyah), kunjungan kewirausahaan ke berbagai perusahaan (rihlah iqtishodiyah), serta kegiatan fathul kutub. Dalam fathul kutub, santri dihadapkan pada problem-problem keumatan dan dilatih mencari jawabannya langsung dari kitab-kitab turats. Ditambah dengan pembekalan wawasan keprofesian dan keilmuan lainnya, santri dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab sebagai alumni pesantren di tengah masyarakat.

Pengembangan Keilmuan dan Keterampilan yang Lebih Luas

Dari sisi keilmuan, santri tingkat SMA mendapatkan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan menantang. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan akademik seperti debat bahasa Arab dan Inggris, tim Olimpiade Sains, Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI), hingga Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Kegiatan-kegiatan ini membuka ruang bagi santri untuk mengembangkan daya pikir kritis, kreativitas, dan kemampuan bersaing secara sehat.

Selain itu, pesantren juga menyediakan beragam wadah pengembangan keterampilan, mulai dari jurnalistik, fotografi, sastra, desain grafis, otomotif, hingga keterampilan keputrian. Keterampilan ini bukan sekadar pelengkap, melainkan nilai tambah yang diharapkan bermanfaat bagi masa depan santri, baik dalam studi lanjut maupun kehidupan profesional.

Persiapan Studi Lanjut: Menatap Masa Depan dengan Lebih Terarah

Berbeda dengan SMP, di tingkat SMA santri mulai mendapatkan pendampingan serius untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Bimbingan ini sudah dimulai sejak awal mereka memasuki jenjang SMA, melalui peran guru BK dan wali kelas.

Santri dikelompokkan dalam beberapa kluster tujuan studi, seperti Universitas Riyadlul Ulum, perguruan tinggi negeri, sekolah kedinasan, hingga perguruan tinggi luar negeri, baik di Timur Tengah maupun non-Timur Tengah. Pendampingan ini bertujuan agar santri siap berkompetisi secara akademik dan mental dengan lulusan sekolah lain yang sebaya.

Penutup: Proses Bertumbuh yang Dirancang Bertahap

Perbedaan pengalaman mondok di SMP dan SMA Condong pada dasarnya mencerminkan proses pendidikan yang bertahap dan berkelanjutan. SMP menjadi fase penanaman dasar, sementara SMA adalah fase pendalaman, penguatan peran, dan persiapan masa depan. Melalui pendidikan kepemimpinan, kemasyarakatan, pengembangan keilmuan, serta persiapan studi lanjut, santri SMA diajak untuk tidak hanya menjadi pelajar, tetapi juga individu yang siap berkontribusi.

Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa melihat bahwa jenjang SMA di Pesantren Condong bukan sekadar kelanjutan dari SMP, melainkan ruang pembentukan diri yang lebih luas—tempat santri belajar memaknai ilmu, tanggung jawab, dan peran mereka di tengah kehidupan. Wallahu a’lam. []

[custom_views]

Share on :

Facebook
X
WhatsApp