~ Tulisan ini pernah dimuat di langgar.co pada bulan Juni 2021. Telah dilakukan penyuntingan ulang untuk kepentingan media yang bersangkutan.
Saya pertama mengenalnya di rubrik koran Republika, catatan-catatan opininya selalu hadir setiap pekan dan terpampang di mading koran Pesantren Condong. Seperti santri pada umumnya, bacaan itu menjadi seperti oase yang melintas di waktu istirahat sore, setelah seharian disibukan dengan aktivitas belajar mata pelajaran umum dan kitab kuning. Sebelum akhirnya magrib datang sebagai petanda untuk memulai kegiatan kembali, mengaji sorogan dan pengulangan pelajaran sekolah hingga pukul sepuluh malam. Karena tidak begitu aktif mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan pondok, membaca koran terutama kolom opini Buya Syafii Maarif dengan rutin saya lakukan sejak mulai masuk bangku SMA.
Kebiasaan membaca kolom opini di koran Republika seperti itu terus berlangsung hingga saya melanjutkan sekolah di Yogyakarta. Pondok Sulaimaniyah tempat saya tinnggal selama masa kuliah, kebetulan berlangganan pula koran republika dan saya terbiasa membacanya saat pagi selesai mengaji atau sore menjelang magrib. Saya berkuliah di universitas Negeri Yogyakarta, kampus tempat dulu Buya Syafii Maarif pernah mengajar. Ia sempat mengampu mata kuliah filsafat sejarah, dan bahasa Inggris. Meski saya belum sempat merasakan diampu olehnya secara langsung, karena begitu saya masuk UNY, Buya sudah pensiun beberapa tahun sebelumnya. Di akhir semester satu, saya mulai mengenalnya lewat pembacaan autobiografi yang ia tulis berjudul “Memoar Seorang Anak Kampung”
Dari catatan autobiografi itu saya bisa menziarahi alam pemikirannya dari dekat; mulai akar benih masa kanak dan remajanya di tanah Minang, keberangkatan ke Yogyakarta, pergulatan-aktivisme di pusaran Muhammadiyah, dan pertemuannya dengan Fazlur Rahman saat studi doktoral di Chicago, Amerika Serikat. Ketika melakukan masa studi di Amerika Serikat, Buya dengan seksama menceritakan pengaruh kuat seorang Fazlur Rahman dalam membentuk kematangan iklim intelektualnya. Seperti pendahulunya, Buya Syafii Maarif turut mewarisi studi yang digeluti oleh Nurcholis Madjid (Caknur) dalam studi pemikiran Islam, tepatnya Islam dan politik yang bermuara pada pencarian identitas keindonesiaan.
Perkenalan pembacaan saya berlanjut pada studi akademik yang ia tulis berjudul “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (Sebuah Refleksi Sejarah)”. Tepat di awal memasuki semester dua, saya pertama membaca karya ini dari buku seorang teman yang saya pinjam, kebetulan ia menghadiri launching buku yang dibedah oleh Buya Syafii langsung di kampus UNY. Entah karena alasan dan latar belakang apa, saya merasa begitu antusias membacanya, bahkan teman yang meminjamkan buku itu sempat sedikit terheran, karena saya membacanya terhitung cepat.
Di sela-sela itu semua, saya kemudian bertemu secara langsung dengan Buya Syafii Maarif di kampus UIN Sunan Kalijaga. Saat itu, penerbit Mizan menerbitkan karya monumental Fazlur Rahman yang berjudul “Islam; Sejarah Pemikiran dan Peradaban”. Buya Syafii Maarif waktu itu dimintai langsung oleh penerbit Mizan untuk membedah buku tersebut. Dari sana pula saya saya mengenal pemikir Islam lain asal Pakistan bernama Mohammad Iqbal yang karya bukunya dijual berdampingan dengan Fazlur Rahman. Setelah saya baca karya buku keduanya, Rahman dan Iqbal turut menjembati arus bersar modernitas dalam Islam di dunia Barat dan global.
Sebagai seorang santri yang konservatif dan belum lama tinggal di Yogyakarta, saya cukup terkejut ketika melihat Buya Syafii Maarif meminta dibawakan Al-Qur’an untuk membaca kutipan ayat dari buku yang sedang dibedah, setelah acara selesai Buya Syafii Maarif membawa Al-Quran dengan cara ditenteng sebagaimana nenteng ketika kita membawa koran harian. Terkejut karena yang ada dalam pandangan dunia saya saat itu, saya menganggap Buya sebagaimana preseden saya melihat Kiai di Pesantren yang memperlakukan atau membawa Al-Qur’an dengan tangan di dada. Di tahun-tahun setelahnya, saya baru mengerti bahwa hal seperti itu dalam tradisi di kalangan Muhammadiyah merupakan hal yang biasa-biasa saja.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan Maret tahun 2017, karya Buya Syafii Maarif kembali muncul. Kali ini hasil dari karya disertasi yang dibentuk menjadi sebuah buku utuh berjudul “Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara (Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante)”. Karya ini menjadi pungkasan studi akademik dalam penelaahan masyarakat Islam di Indonesia. Selain mengurai Indonesia dalam spektrum kebinekaan yang terputus oleh rantai kolonial. Dalam konteks kenegaraan, karya ini menjadi pusaran telaah identitas politik umat Islam, ditengah bergejolaknya ideologi Islam politik yang sedang berkecamuk (bahkan porak-poranda) di negara-negara Islam Timur Tengah pasca reformasi di Indonesia.
Perjalanan dan pembacaan atas itu semua, tanpa saya sadari turut memengaruhi tema kajian yang kemudian menjadi karya tugas akhir skripsi saya di program studi ilmu sejarah. Saya menulis Sosialisme Indonesia yang ditelaah dari buah pergulatan pemikiran Sukarno, yaitu Marhaenisme: Sosialisme Religius, periode tahun yang diambil mulai dari rentang tahun 1933 sampai 1945. Tahun 1933 diambil bermula pada pidato persidangan Sukarno di Bandung yang berjudul yaitu Indonesia Menggugat. Dan tahun 1945 sebagai muara bertemunya dasar-dasar kebinekaan hidup berkebudayaan Indonesia, yang kemudian termaktub dalam lima bulir Pancasila.
Marhaenisme (sosialisme religius) merupakan satu bentuk penelusuran Sukarno pada sistem sosial, ekonomi, dan budaya yang menyeluruh. Dan penamaan marhaen pada seorang petani di Bandung adalah upaya peneguhan subjek diri sukarno pada diri yang lain secara utuh. Dan disitulah awal mula terciptanya tatanan, yaitu bertemunya diri pribadi dalam diri masyarakat. Untuk mengurai dan menghubungkan itu, diperlukan kejernihan melihat aliran jejak langkah masa lalu, untuk kemudian dialirkan kejernihannya ke masa kini (Baca, Tradisi). Dan itulah yang dimaksud dengan aliran jernih sungai yang melahirkan peradaban-peradaban baru.
Satu hal yang menjadi bongkahan peninggalan peradaban modern (Baca, modernisme) dengan humanisme-universalnya, ialah sifatnya yang sekuler. Berbeda dengan akar karakteristik masyarakat Indonesia, sebagaimana penelusuran Sukarno dalam marhaenisme, yang berpangkal dan bermuara pada ketuhanan, ialah sosialisme religius, yaitu bertemunya kehidupan sosial yang imanen dengan religiusitas yang transenden. Jika religiusitas ketuhanannya bersifat sosialisme, maka ia tak akan lagi menyalahkan Tuhan dalam jalan religiusitas lain. Karena ia sudah tidak membedakan antara yang imanen dengan yang transenden. Dan corak dasar sosialime religius adalah, ia tidak kemudian meninggalkan kebinekaan yang sifatnya lokal sebagai word-view tempat bermulanya setiap subjek diri, dan disitulah akar dan pengenalan awal akan kepercayaan pada Tuhan tercipta.
Kemudian di tahun 1945, corak-corak kehidupan lokal itu menemukan posisinya dalam konteks kenegaraan (Baca, negara bangsa), setelah melalui perdebatan panjang dalam sidang konstituante yang dipimpin oleh Sukarno. Dari sana, maka lahirlah nilai dasar hidup (tatanan) yang termaktub dalam lima butir Pancasila. Pun dengan termaktubnya lima butir Pancasila, perjalanan Pancasila diuji oleh arus politik zaman dalam setiap peralihan kekuasaan.
Hilangnya penghayatan dan kehikmatan dalam kehidupan berbangsa merupakan implikasi dari kehidupan yang sekuler, yakni memisahkan yang imanen dengan yang transenden, sehingga religiusitas transendental itu tidak termanifetasi dalam imanenitas kehidupan sehari-hari. Kita bisa belajar kembali pada masyarakat adat dan aliran kepercayaan yang merayakan Pancasila dalam kegiatan hidup sehari-sehari, dengan segala ragam kebinekaan, ia tidak memisahkan dan membedakan dari kebinekaan yang ada dalam diri mereka. Karena pokok dasar dari bineka, adalah tunggal ika, yaitu ketunggalan akan tujuan hidup dan Tuhan yang satu.
Dalam tajuk kencana di Ib Times.id yang dimuat di hari ulang tahunnya 2 tahun sebelum ia wafat, tertulis “Buya Syafii Maarif sebagai Mata-Air Keteladanan Bangsa”. Barangkali, keresahan yang dialirkan terus-menerus oleh kejernihan pikiran lewat kerja akademiknya, ia ingin mengalirkan sungai peradaban baru itu. Dan saya, ingin meneladani perbuatannya dengan menjadi anak sungai yang terhubung dengan aliran sungai dirinya.
Tabik