Khutbah Iduladha 1447 H: Menyembelih Ego di Tengah Impitan Zaman

Share on:

Facebook
X
WhatsApp

WWW.CONDONG.ID – Tasikmalaya, Pada (27/6) kemarin, Pesantren Condong menggelar salat Iduladha di masjid kampus Universitas Riyadlul Ulum untuk pertama kalinya. Pada momentum istimewa ini, bukan hanya para mahasiswa yang hadir dalam salat Iduladha bersama di masjid UNIRU. Para santri, guru-guru, dan juga masyarakat ikut hadir dan meramaikan kegiatan salat Iduladha disana.

Setelah beberapa tahun sebelumnya pelaksanaan salat Iduladha hanya dilaksanakan di masjid pondok saja. Tahun ini, masjid UNIRU sudah rampung dan bisa digunakan akhirnya pelaksanaan salat Iduladha tahun ini dilaksanakan disana. Para jemaah laki-laki memenuhi seluruh isi masjid sedangkan jamaah perempuan dipelataran luar masjid.

Pada tahun ini yang bertindak sebagai imam adalah Syaikh Zakaria Muhammad Muhammad Muhammad Al-Batea Bashar dari Mesir dan khotib Ust. Dr. (Cand) Mohammad Ridwan M.Pd. ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Riyadul Ulum. Kegiatan salat Iduladha dimulai pada pukul 6:00 pagi lalu disusul dengan khutbah sampai pukul 7:30 dan ditutup dengan salat Dhuha bersama sebelum memulai penyembelihan hewan kurban.

Pada khutbah Iduladha tahun ini Ust. Mohammad Ridwan menyampaikan tentang makna kurban yang sebenarnya, yaitu tentang simbol untuk menyembelih kesombongan, kerakusan, cinta dunia yang berlebihan, ego, serta hawa nafsu di dalam diri manusia. Sejatinya kegiatan berkurban ini adalah bentuk daripada refleksi terhadap diri kita agar bisa mengontrol sifat nasfu dalam diri.

Selain itu beliau juga menyampaikan tentang pentingnya meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang dengan keteguhan hatinya mampu berkorban segalanya setelah diberi banyak cobaan dari Allah SWT. Hal ini menjadi penting karena dalam kisah keduanya memberikan contoh tentang keteguhan hati dan keimanan kepada Allah SWT yang harus selalu tertanam dalam diri dalam kondisi apapun.

“Bahwa, jalan menuju kemuliaan itu penuh dengan cobaan dan ujian, Allah tidak pernah mendidik hambanya dengan kenikmatan, tapi dengan cobaan yang setelahnya penuh dengan hikmah yang tidak terduga.” Ujarnya dalam khutbah Iduladha tahun ini.

Nabi Ibrahim AS menunjukan sikap bahwasanya dirinya sangat mencintai Allah SWT daripada dunia dan seisinya. Hal ini menjadi bukti bahwasanya Nabi Ibrahim berhasil menyembelih egonya yaitu kecintaan terhadap Nabi Ismail AS putra yang sangat dinantikannya dengan sangat payah sampai usia renta.

Melihat kejadian ini tentu berkorelasi dengan situasi zaman modern, yaitu banyaknya orang yang menjual sisi ketaatannya kepada agama hanya untuk hidup bermewah-mewahan, untuk kehidupan dan kenikmatan di dunia yang sementara. Maka, mari jadilah manusia yang selalu menjaga kehidupan akhirat dengan senantiasa taat terhadap syariat agama.

“Semoga dengan Iduladha ini menjadikan hati kita menjadi taat, tenang, qonaah, dan kalau selama ini cinta dunia kurangi, kalau selama ini terlalu banyak mengeluh perbaiki, kalau selama ini sulit berbagi latih diri, kalau selama ini salat masih lalai benahi, jangan sampai takbir menggema hanya di lisan saja tidak sampai pada relung-relung hati kita”. Tambahnya dalam khutbah.

Selain itu, Ust. Ridwan juga berpesan tentang makna dari penyembelihan hewan kurban yang bukan hanya tentang daging dan darah saja, tetapi seharusnya bermakna ketakwaan kepada Allah SWT.

“Karena boleh jadi hewan kurban kita sampai pada manusia, tapi ketakwaannya tidak sampai. naudzubillah“. Pungkasnya dalam khutbah Iduladha tahun ini.

Maka, sebagai makhluk yang berakal marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa. Dengan adanya momentum Iduladha tahun ini semoga kita menjadi insan paripurna yang selalu ingat dan taat terhadap ajaran dari Allah SWT, Aamiin~[]

[custom_views]

Share on :

Facebook
X
WhatsApp