Tasikmalaya — Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) STAI Riyadul Ulum Condong Tasikmalaya menggelar Temu Wicara Sejarah dan Diseminasi Praktikum bertema “Penguatan Pemahaman Sejarah Peradaban Islam sebagai Bekal Calon Sejarawan” pada Minggu, 18 Januari 2026, bertempat di Meeting Hall Universitas Riyadul Ulum (Uniru) Tasikmalaya.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–15.30 WIB ini menjadi ajang akademik strategis yang mempertemukan dosen, mahasiswa, dan pimpinan universitas. Tujuannya memperkuat orientasi keilmuan mahasiswa SPI sekaligus mendiseminasikan hasil praktikum lapangan yang telah dilaksanakan sepanjang tahun akademik 2025.
Ketua Program Studi SPI, H. Deden Gumilang Masdar Nurulloh, M. Hum., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun tradisi akademik yang reflektif dan kritis di lingkungan Prodi SPI.
“Sejarah tidak cukup hanya dipelajari dari buku. Praktikum lapangan dan forum diseminasi seperti ini penting agar mahasiswa mampu mengaitkan antara data empiris, konteks sosial, dan kerangka teoritik sejarah peradaban Islam,” ujarnya.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Riyadul Ulum, Muhammad Ridwan, M. Pd., yang mewakili Rektor Uniru. Ia mengapresiasi konsistensi Prodi SPI dalam membina mahasiswa berbasis pengalaman lapangan.
“Mahasiswa SPI tidak hanya dilatih menjadi penghafal peristiwa sejarah, tetapi juga calon sejarawan yang memiliki kepekaan akademik, metodologis, dan etis,” tuturnya.
Sesi pembinaan mahasiswa diisi oleh Dr. H. Dadang Yudhistira, S.H., M. Pd., Adv., Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Uniru. Ia menekankan pentingnya integritas akademik dan tanggung jawab moral dalam menulis serta menyampaikan narasi sejarah.
“Mahasiswa sejarah harus memiliki karakter ilmuwan: jujur pada data, kritis dalam analisis, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan narasi sejarah kepada publik,” tegasnya.
Adapun sesi Temu Wicara Sejarah menghadirkan Rezza Fauzi Muhammad Fahmi, M. Hum., yang mengajak mahasiswa memahami sejarah peradaban Islam secara kontekstual.
“Sejarawan Islam masa depan harus mampu menjembatani antara warisan peradaban Islam dan realitas masyarakat modern,” jelasnya.
Dalam sesi diseminasi, mahasiswa mempresentasikan hasil praktikum lapangan yang dilaksanakan pada Oktober 2025 di berbagai lokasi: Kabupaten Ciamis, Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Kunjungan meliputi situs-situs sejarah seperti Gunung Susuru, Keraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, hingga Museum Kaliyasa Dieng.
Ketua Prodi SPI memberikan apresiasi atas hasil kerja mahasiswa yang menunjukkan peningkatan kemampuan analisis, meski masih perlu penguatan di aspek metodologi dan penulisan akademik.
“Presentasi mahasiswa sudah menunjukkan pemahaman konteks sejarah yang baik. Ke depan, perlu lebih diperkuat pada ketajaman analisis sumber dan keberanian membangun argumentasi historis,” ungkapnya.

Kegiatan ini diharapkan memperkuat kesiapan mahasiswa SPI STAI Riyadul Ulum menjadi calon sejarawan yang tidak hanya memahami masa lalu, tetapi juga berkontribusi bagi pengembangan keilmuan dan masyarakat luas.