
Pernahkah Anda merasa hidup seperti roller coaster? Suatu hari kita berada di puncak kebahagiaan karena promosi jabatan atau berita kelahiran anak, namun di hari lain kita terjun bebas ke lembah kesedihan akibat kehilangan atau kegagalan. Bagi banyak orang, fluktuasi ini adalah beban mental yang melelahkan. Namun, tahukah Anda bahwa dalam Islam, ada sebuah “mantra” yang membuat seseorang mustahil menjadi orang yang dipenuhi kemuraman hidup, apapun situasinya?
Rahasia ini terangkum indah dalam sebuah hadits populer yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Yahya Shuhaib bin Sinan. Rasulullah SAW bersabda:
عَجَبًا لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ، ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن: إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيرًا لَهُ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْرًا لَهُ.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin: Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu baik baginya.”
Hadits ini bisa berperan sebagai panduan psikologis dan spiritual bagi setiap orang beriman. Mari kita bedah mengapa sabar dan syukur menjadi dua sayap yang membuat hidup seorang mukmin begitu istimewa.
Kekaguman yang Berdasar
Rasulullah SAW memulai hadits ini dengan kata “Ajaban” (menakjubkan). Para ulama menjelaskan bahwa rasa kagum Nabi di sini adalah bentuk apresiasi terhadap cara orang beriman menyikapi takdir. Bayangkan, di dunia ini tidak ada satupun manusia yang bebas dari masalah. Namun, yang membedakan adalah bagaimana mereka merespons.
Bagi orang yang tidak beriman, musibah adalah bencana murni yang sering kali berujung pada rasa putus asa, caci maki terhadap waktu, bahkan kemarahan kepada Tuhan. Sebaliknya, ketika mendapat nikmat, mereka sering kali lupa daratan dan menggunakan nikmat tersebut untuk kemaksiatan, yang pada akhirnya justru menjadi beban dosa di akhirat.
Namun, seorang mukmin memiliki “filter” yang berbeda. Filter itu bernama iman kepada qada dan qadar. Dengan iman ini, ia memahami bahwa setiap jengkal kejadian dalam hidupnya berada dalam kendali Zat Yang Maha Pengasih.
Sabar: Bukan Sekadar Pasrah, Tapi Kekuatan
Ketika “Dharra” (kesulitan) menyapa, baik itu berupa sakit, kehilangan harta, atau masalah keluarga, seorang mukmin akan menarik tuas rem yang disebut sabar. Sabar di sini bukan berarti diam membeku atau menyerah kalah.
Menurut penjelasan Syekh Ibnu Utsaimin, sabar dalam kondisi ini mencakup tiga hal penting:
- Menahan diri dari mengeluh kepada makhluk dan hanya mengadu kepada Allah.
- Menunggu kelapangan (فرج) dengan penuh keyakinan bahwa badai pasti berlalu.
- Mengharap pahala (ihtisab) atas rasa sakit yang dialami.
Inilah keutamaannya: sabar mengubah musibah yang secara lahiriah terasa pahit menjadi investasi pahala yang manis. Orang yang sabar akan meraih pahala tanpa batas, sebagaimana janji Allah bahwa mereka yang sabar akan dipenuhi pahalanya tanpa hitungan. Maka, di mata seorang mukmin, sakitnya tubuh atau berkurangnya harta adalah cara Tuhan “mencuci” dosa dan menaikkan derajat mereka.
Syukur: Menjaga Nikmat Agar Tetap Berkah
Di sisi lain, saat “Sarra” (kesenangan) datang, seorang mukmin tidak lantas sombong. Ia tahu bahwa kecerdasan, harta, dan keluarga adalah titipan. Syukur yang ia lakukan melibatkan pengakuan dalam hati, lisan yang memuji, dan anggota tubuh yang bergerak dalam ketaatan.
Hal menarik yang disebutkan dalam penjelasan hadits ini adalah bahwa syukur itu sendiri adalah nikmat tersendiri. Saat kita diberi kemampuan untuk bersyukur, maka kita sebenarnya butuh syukur lagi atas kemampuan tersebut, dan begitu seterusnya. Syukur inilah yang menjadi pengikat nikmat lama dan pengundang nikmat baru, sesuai janji Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7.
Belajar dari Sang Rawi: Shuhaib bin Sinan
Hadits tentang sabar ini diriwayatkan oleh salah satu sahabat Nabi SAW, Shuhaib bin Sinan, atau yang dikenal sebagai Shuhaib ar-Rumi. Dia adalah sosok yang mempraktikkan hadits ini secara nyata. Dulu, ia adalah seorang bangsawan yang sempat menjadi budak, kemudian menjadi saudagar kaya di Mekkah, namun akhirnya meninggalkan seluruh hartanya demi hijrah mengikuti Nabi SAW.
Shuhaib merasakan betul apa itu “Dharra” saat disiksa karena Islam dan kehilangan harta benda, namun ia tetap sabar. Ia juga merasakan “Sarra” saat menjadi orang kepercayaan Khalifah Umar bin Khattab hingga dipercaya memimpin shalat bagi kaum muslimin. Baginya, susah dan senang hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama: sarana untuk mendekat kepada Allah.
Kesimpulan
Hidup seorang mukmin adalah siklus yang indah antara sabar dan syukur. Jika ia di atas, ia merunduk dengan syukur. Jika ia di bawah, ia tegak dengan sabar. Dengan cara ini, tidak ada celah bagi kegagalan dalam hidupnya.
Jika hari ini Anda sedang merasa berat, ingatlah bahwa kesabaran Anda sedang menuliskan catatan pahala yang tak terhingga. Dan jika hari ini Anda sedang bahagia, pastikan syukur Anda membuat kebahagiaan itu abadi hingga ke surga. Karena pada akhirnya, bukan apa yang terjadi pada kita yang menentukan kebahagiaan, melainkan bagaimana kita meresponsnya di hadapan Sang Pencipta. Wallahu a’lam [].