
CONDONG.ID – TASIKMALAYA – Menjelang masa-masa akhir, santri akhir KMI Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Condong kembali digembleng melalui tradisi intelektual khas pesantren yang legendaris: Fathul Kutub. Fathul Kutub tahun ini mengusung tema (بالكتب نستولي الدنيا، وبالعلم نُحيي المعنى) yang artinya “Dengan Kitab Kuning Kita Kuasai Dunia, dan Dengan Ilmu Kita Hidupkan Makna”, kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai tanggal 31 Januari hingga 4 Februari 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda wajib bagi santri akhir sebelum mereka dinyatakan lulus. Pesantren Condong memandang penting pembekalan ini agar para alumni nantinya tumbuh menjadi Insan Kamil yang mampu membumikan ajaran Islam di tengah derasnya arus zaman.
Metode Istinbath Hukum: Menjawab Masalah dari Sumber Konkrit
Proses Fathul Kutub diawali dengan pengarahan intensif dari asatiz senior mengenai metodologi penelitian kitab. Pada hari-hari berikutnya, para santri dihadapkan pada berbagai problematika kontemporer yang mencakup bidang Fikih, Tauhid, hingga Hadis.

Tantangannya tidaklah mudah. Setiap santri diwajibkan melakukan istinbath hukum (pengambilan hukum) yang tepat dengan menelaah ribuan lembar referensi dalam kitab-kitab klasik (kitab kuning). Mereka harus mencari jawaban konkrit langsung dari sumber aslinya, sebuah proses yang melatih ketajaman nalar sekaligus kesabaran intelektual.
Bekal Menghadapi Realitas Masyarakat
Salah seorang pembimbing kegiatan, Ust. Wafa Fatihul Ihsan, S.H, M.H, menjelaskan bahwa simulasi ini adalah cerminan dari tantangan nyata di masa depan.
“Kegiatan ini memberikan gambaran jelas kepada santri akhir bahwasanya ketika nanti berkiprah di masyarakat, mereka akan berhadapan dengan masalah-masalah serupa. Sebagai santri, mereka pasti akan diminta memberikan jawaban dari perspektif agama,” ungkapnya.

Hal senada dirasakan oleh salah satu peserta, M. Farid Abdul Malik. Ia mengaku bersyukur atas pembekalan ini.
“Alhamdulillah, kegiatan ini memberikan kesan luar biasa. Sebagai santri yang akan lulus, bekal menelaah kitab untuk mencari istinbath hukum yang betul adalah hal mutlak, karena di masa depan akan muncul berbagai permasalahan yang harus ditelaah secara mendalam dari sisi agama,” tuturnya.
Apresiasi Peserta dan Kelompok Terbaik
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kesungguhan para santri dalam membedah kitab, Pesantren Condong memberikan penghargaan kepada peserta dan kelompok terbaik yang dinilai paling cakap dalam menganalisis masalah.
| Peserta Terbaik (Santri Putra) | Peserta Terbaik (Santri Putri) |
| 1. Faris Al-Hakim | 1. Nanda Nur Mutmainnah |
| 2. Muhammad Alghifari | 2. Aisha Oktaviani Zahra |
| 3. Wizdan Muhammad Abdul Malik | 3. Nauva Nurauliya Wafda |
| 4. Muhammad Khafiyan Al-Ghifari | 4. Salwa Samrotun Nazwa |
| 5. M. Dafha Fadhillah | 5. Alika Putri Aulia |
| 6. Reza Muhammad Tsani | 6. Difa Purnama Trifanuri |
| 7. Muhammad Farid Abdul Malik | 7. Diana Sulis Fakhira |
| 8. Syamil Muhammad Fadlil | 8. Dinda Aulia Fatwa |
| 9. M. Abdullah Al-Haddad | 9. Sahla Khairi Utami |
| 10. M. Fikar As-Sidik | 10. Mia Ramdaniah |
| 11. Ayif Muhammad Arif Billah | |
| 12. Muhammad Faizal Hamijaya |
- Kelompok Terbaik Putra: Kelompok 3 (Pembimbing Kelompok: Ust. Ujang Ahmad Sya’bani, M.Pd. & Ust. Regi Pathuzzaman, S.Hum)
- Kelompok Terbaik Putri: Kelompok 11 (Pembimbing Kelompok: Usth. Fani Anfaul Akmaliah, S.Pd. & Usth. Ida Meilany, S.Hum)
Tuntasnya kegiatan Fathul Kutub 2026 ini memberikan pengalaman baru bagi para santri akhir KMI. Dampaknya tidak hanya terasa pada peningkatan kemampuan bahasa Arab dan literasi kitab, tetapi juga pada kesiapan mental mereka sebagai calon ulama dan pemimpin masyarakat.
Dengan bekal ini, alumni Pesantren Condong diharapkan tidak gamang dalam menjawab tantangan zaman dan mampu menjadi rujukan solusi keagamaan yang moderat dengan berbasis data literatur yang kuat. Selamat! [NHF]