Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) melaksanakan praktikum lapangan pada 15 November 2025 dengan mengunjungi empat lokasi bersejarah: Masjid Al Manshur, Makam Kiyai Walik, Museum Kailasa, dan Candi Arjuna. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan penelitian sejarah melalui observasi langsung objek-objek budaya dan arkeologi.

Rombongan diberangkatkan pada pukul 20.00 dari kampus setelah acara pelepasan oleh Ust. Nurrohman pada 19.30. Perjalanan panjang menuju Wonosobo berlangsung lancar hingga peserta tiba di Masjid Al Manshur pada 03.30. Sesampainya di lokasi, mahasiswa melaksanakan salat Subuh berjamaah dan sarapan sebelum memulai aktivitas penelitian.
Masjid Al Manshur menjadi titik observasi pertama. Pengurus masjid, Kiyai H. Haidar Idris, memberikan penjelasan mengenai sejarah masjid yang berkaitan dengan perkembangan Islam lokal.
“Masjid Al-Manshur di Kauman Wonosobo memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan masa Perang Diponegoro…,” ungkapnya saat memberikan keterangan kepada peserta.
Mahasiswa kemudian melakukan pendataan dan dokumentasi pada area masjid, termasuk kawasan belakang masjid yang dikenal sebagai lokasi kijing yang diyakini sebagai makam atau petilasan Mbah Kyai Walik, tokoh dakwah yang dihormati masyarakat lintas etnis dan agama. Pada sesi ini, peserta juga mengamati perkembangan lingkungan pendidikan yang tumbuh di sekitar masjid, termasuk keberadaan Pondok Pesantren Al-Manshur.
Setelah penelitian selesai, rombongan melanjutkan perjalanan menuju tempat makan pada pukul 08.00. Setelah sarapan kedua, kegiatan dilanjutkan dengan perjalanan menuju kawasan Dieng untuk meninjau dua situs sejarah berikutnya: Museum Kailasa dan Candi Arjuna.
Tepat pukul 10.00, mahasiswa tiba di kompleks Candi Arjuna, salah satu peninggalan Hindu awal di kawasan Dieng. Juru pelihara candi, Aa Wijaya, menyampaikan informasi terkait nilai sejarah situs tersebut.
“Candi Arjuna merupakan salah satu peninggalan penting dari masa Hindu awal di kawasan Dieng,” jelasnya.

Mahasiswa melakukan observasi arsitektur, teknik konstruksi, dan konteks historis candi yang menjadi bagian penting dari perkembangan religi dan budaya masyarakat Dieng pada masa kuno.
Usai penelitian di candi, rombongan melaksanakan ISOMA pada pukul 12.00 sebelum berpindah ke Museum Kailasa pada 13.30. Dalam sesi kunjungan, pemandu dari Dinas Pariwisata menjelaskan makna koleksi museum yang menggambarkan perjalanan sosial dan budaya masyarakat Dieng.
“Setiap koleksi yang ada di museum ini menyimpan cerita sejarah perkembangan masyarakat,” ujarnya kepada peserta.
Penelitian di museum berlangsung hingga pukul 15.00, kemudian dilanjutkan dengan ISOMA kedua. Pada sore hari, mahasiswa bergerak menuju penginapan dan tiba sekitar pukul 17.00 untuk beristirahat sebelum rangkaian kegiatan malam.
Kegiatan praktikum ini diikuti oleh 19 mahasiswa dengan pendampingan dua pembimbing, yaitu Ustadz Badruddin dan Ustadzah Silvi. Seluruh kegiatan dilakukan dengan transportasi mobil dan dilengkapi dokumentasi berupa foto kegiatan.
Menurut penyelenggara, praktikum lapangan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam berinteraksi dengan sumber sejarah primer. Kegiatan ini dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan analisis, pemahaman konteks historis, keterampilan observasi, serta ketepatan penyusunan laporan ilmiah.