Ciamis, 10 Januari 2026 — Dosen Universitas Riyadlul Ulum (UNIRU) Tasikmalaya, Syarif Hidayat, M.Pd, memaparkan strategi pengembangan desa wisata berbasis adaptive governance dalam Diskusi Ilmiah di Universitas Galuh (UNIGAL), Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNIGAL sebagai ruang dialog akademik dan praktik tata kelola pemerintahan desa.

Syarif Hidayat menekankan bahwa pengembangan desa wisata tidak boleh hanya berorientasi pada aspek fisik dan popularitas semata. Menurutnya, keberhasilan desa wisata harus berakar pada komitmen, kebutuhan, serta kesadaran kolektif masyarakat setempat.
“Banyak desa wisata hari ini terjebak pada fenomena gincu pembangunan, terlihat menarik di permukaan namun rapuh dari sisi substansi dan keberlanjutan. Padahal, pariwisata desa seharusnya tumbuh dari masyarakat itu sendiri sebagai subjek pembangunan,” ujar Syarif Hidayat dalam diskusi tersebut.
Ia menjelaskan dua pilar utama dalam perspektif adaptive governance, yakni kekuatan institusi dan modal sosial. Institusi desa harus mampu membangun tata kelola yang adaptif dan responsif terhadap perubahan, sementara modal sosial seperti kepercayaan, partisipasi, dan nilai lokal menjadi fondasi keberlanjutan. Selain itu, Syarif menyoroti pentingnya fleksibilitas struktur kelembagaan, pendekatan bottom-up agency, serta peningkatan literasi digital.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FISIP UNIGAL, Etih Henriyani, S.IP., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan praktisi desa.
“Kolaborasi ini penting dalam merumuskan model pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Diskusi diperkaya dengan kehadiran dua praktisi desa wisata, yaitu Kepala Desa Wisata Bangunharja, Carikin, dan Kepala Desa Wisata Jalatrang, Dadi Haryadi. Keduanya membagikan pengalaman empiris mengenai tantangan penguatan partisipasi warga serta pengelolaan potensi lokal yang menyeimbangkan aspek ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa FISIP UNIGAL diharapkan memiliki pemahaman kritis bahwa desa wisata bukanlah sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan proses panjang yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan berbasis kearifan lokal.