Dies Natalis ke-8, SPI UNIRU Ajak Mahasiswa Jadikan Sejarah sebagai Inspirasi Membangun Masa Kini

Share on:

Facebook
X
WhatsApp

TASIKMALAYA, 4 Oktober 2026 – Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Universitas Riyadlul Ulum (UNIRU) Tasikmalaya menggelar Seminar Sejarah Peradaban Islam dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-8 Program Studi SPI, Sabtu (3/10/2026).

Mengusung tema “Menelusuri Jejak Islam sebagai Inspirasi Membangun Masa Kini”, seminar tersebut menghadirkan Dr. Faizal Arifin, M.Hum., Dosen SPI UIN Jakarta, sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Yuni Nur Anggraini, mahasiswa SPI semester 7.

Seminar menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memahami sejarah Islam secara lebih dekat dan kontekstual. Sejarah tidak hanya ditempatkan sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai sumber refleksi untuk memahami kehidupan dan berbagai persoalan pada masa kini.

Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-8, Siti Salwa, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda peringatan hari jadi program studi, tetapi menjadi momentum pembelajaran dan refleksi bersama.

“Kami ingin Dies Natalis ke-8 ini menjadi momentum untuk belajar dan berefleksi bersama. Tema seminar kami pilih agar mahasiswa tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga bisa menemukan inspirasi dari perjalanan umat Islam untuk kehidupan mereka hari ini,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kaprodi Sejarah dan Peradaban Islam, H. Deden Gumilang Masdar Nurulloh, M.Hum., menekankan pentingnya mahasiswa sejarah mampu menghubungkan pengetahuan sejarah dengan realitas kehidupan.

“Sejarah jangan berhenti sebagai hafalan tentang masa lalu. Kita perlu bertanya: apa yang bisa kita pelajari dari masa lalu untuk menghadapi kehidupan hari ini? Di situlah sejarah menjadi penting,” ungkapnya.

Menurut Deden, Prodi SPI memiliki tanggung jawab untuk membangun tradisi akademik yang mendorong mahasiswa tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga mampu membaca makna di balik berbagai peristiwa dan perkembangan peradaban Islam.

“Mahasiswa SPI harus memiliki kesadaran bahwa mereka sedang mempelajari perjalanan sebuah peradaban. Karena itu, tugas kita bukan hanya memahami warisan tersebut, tetapi juga bagaimana mengambil nilai dan semangatnya untuk ikut membangun masa depan,” tambah Deden.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Rektor Universitas Riyadlul Ulum, Dr. H. Mahmud Farid, M.Pd. Ia memberikan apresiasi atas penyelenggaraan seminar dan menilai kajian sejarah memiliki peran penting dalam membangun generasi yang memiliki wawasan sekaligus kesadaran terhadap akar sejarahnya.

“Perguruan tinggi bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga tempat membangun cara berpikir. Melalui sejarah, mahasiswa belajar memahami perjalanan manusia, perubahan masyarakat, serta nilai-nilai yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi masa depan,” tutur Mahmud Farid.

Sementara itu, dalam pemaparannya, Dr. Faizal Arifin, M.Hum., mengajak peserta melihat sejarah Islam secara lebih luas. Menurutnya, sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa yang telah selesai, melainkan pengalaman manusia yang dapat dibaca kembali sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Kita belajar sejarah bukan untuk tinggal di masa lalu. Kita melihat masa lalu supaya bisa memahami bagaimana manusia menghadapi persoalan, membangun pengetahuan, membentuk masyarakat, dan merespons perubahan. Dari sana kita bisa menemukan inspirasi untuk kehidupan hari ini,” jelas Faizal.

Ia juga menekankan pentingnya mahasiswa sejarah memiliki kemampuan menghubungkan pengetahuan sejarah dengan persoalan kekinian. Dengan demikian, sejarah dapat hadir sebagai pengetahuan yang hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Seminar berlangsung dalam suasana akademik yang interaktif. Mahasiswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga terlibat dalam proses diskusi dan dialog mengenai berbagai persoalan sejarah dan peradaban Islam.

Bagi Prodi SPI Universitas Riyadlul Ulum, Dies Natalis ke-8 menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan program studi sekaligus meneguhkan arah pengembangannya ke depan.

Delapan tahun perjalanan Prodi SPI tidak sekadar menjadi hitungan usia, tetapi juga bagian dari proses membangun tradisi keilmuan, memperkuat budaya akademik, dan menyiapkan generasi yang mampu memahami sejarah sekaligus mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

Melalui seminar tersebut, Prodi SPI UNIRU kembali menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar cerita tentang apa yang telah berlalu. Sejarah menjadi ruang untuk belajar, bercermin, dan menemukan inspirasi dalam membangun masa kini serta menyiapkan masa depan.

[custom_views]

Share on :

Facebook
X
WhatsApp